Archive for September, 2005

Selamat Jalan Cak Nur!

Monday, September 5th, 2005

Saya tidak begitu ingat sejak kapan saya mulai begitu tertarik dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur. Suatu hari di perpustakaan ayah di rumah tiba-tiba saja mata memandang lama sederetan buku Cak Nur yang sudah lusuh dan berwarna cokelat di sebuah rak yang penuh debu. Satu per satu saya baca dari berbagai judul buku, mulai dari judul Khasanah Intelektual Muslim, Islam Kemodernan dan KeIndonesiaan, sampe bukunya guru Sang Cak Nur sendiri Capita Selecta M.Natsir. Hal yang saya lakukan bagi seumuran saya waktu itu mungkin hal yang "gila" dan sangat membosankan. Di saat itu saya berfikir, imana saya tidak begitu yakin kalo ayah saya punya berbagai seri buku pemikiran Cak Nur sebagai "pengagum" orang tersebut karena di beberapa deretan buku berikutnya tersusun sederetan beberapa buku counter-argument dari pemikiran Cak Nur, salah satunya tulisan ayah saya sendiri. (Mmmm…!). Tapi tak tahu kenapa ketika saya baca kedua2nya saya lebih tertarik mendalami pemikiran Cak Nur yang lebih menawarkan sebuah romantisme pemikiran, hasil sebuah imajinasi karya intelektual yang melompati zamannya di waktu itu (sorry father!). Mulai saat itu, diri ini begitu dekat dan intim dengan istilah pluralisme, sekularisme ala’ Cak Nur, konteksualisasi pemikiran, proformalistik vs kontraformalistik keberagamaan, Institualisasi Keagamaan, Huuuh… sebuah pemkiran yang menawarkan revoluasi sekaligus revisionesme yang cocok untuk seorang anak muda dengan jiwa "ingin tahu" yang sedang meletup-letup. Entah kenapa, jiwa ini kadang terlalu progresif dalam pemahaman keberagamaan, kadang saya berfikir apakah saya salah? Memang setiap manusia diciptakan dengan rasio dan akal sehat. Lalu saya pun bertanya pada diri sendiri, cukup mampukah akal ini mempertanyakan hal-hal fundamental mengenai agama bahkan Tuhan sekalipun? Transformasi pemikiran saya mengantarkan pada suatu kesimpulan, di mana ada koridor-koridor tertentu yang memaksa akal dan rasio ini berhenti ketika dihadapkan pada fakta-fakta spiritual. Banyak hal lain yang saya dapat waktu itu, setidaknya saya bisa lebih fair-minded dalam menghadapi perbedaan pemikiran dan pemahaman keberagamaan. Terima kasih buat Cak Nur yang membuat seorang anak muda di sudut ruang dan sudut waktu yang lain terstimulus untuk berfikir dan berfikir…Selamat jalan Guru Bangsa!

Selamat Jalan Cak Nur!

Monday, September 5th, 2005

Saya tidak begitu ingat sejak kapan saya mulai begitu tertarik dengan pemikiran-pemikiran Cak Nur. Suatu hari di perpustakaan ayah di rumah tiba-tiba saja mata memandang lama sederetan buku Cak Nur yang sudah lusuh dan berwarna cokelat di sebuah rak yang penuh debu. Satu per satu saya baca dari berbagai judul buku, mulai dari judul Khasanah Intelektual Muslim, Islam Kemodernan dan KeIndonesiaan, sampe bukunya guru Sang Cak Nur sendiri Capita Selecta M.Natsir. Hal yang saya lakukan bagi seumuran saya waktu itu mungkin hal yang "gila" dan sangat membosankan. Di saat itu saya berfikir, imana saya tidak begitu yakin kalo ayah saya punya berbagai seri buku pemikiran Cak Nur sebagai "pengagum" orang tersebut karena di beberapa deretan buku berikutnya tersusun sederetan beberapa buku counter-argument dari pemikiran Cak Nur, salah satunya tulisan ayah saya sendiri. (Mmmm…!). Tapi tak tahu kenapa ketika saya baca kedua2nya saya lebih tertarik mendalami pemikiran Cak Nur yang lebih menawarkan sebuah romantisme pemikiran, hasil sebuah imajinasi karya intelektual yang melompati zamannya di waktu itu (sorry father!). Mulai saat itu, diri ini begitu dekat dan intim dengan istilah pluralisme, sekularisme ala’ Cak Nur, konteksualisasi pemikiran, proformalistik vs kontraformalistik keberagamaan, Institualisasi Keagamaan, Huuuh… sebuah pemkiran yang menawarkan revoluasi sekaligus revisionesme yang cocok untuk seorang anak muda dengan jiwa "ingin tahu" yang sedang meletup-letup. Entah kenapa, jiwa ini kadang terlalu progresif dalam pemahaman keberagamaan, kadang saya berfikir apakah saya salah? Memang setiap manusia diciptakan dengan rasio dan akal sehat. Lalu saya pun bertanya pada diri sendiri, cukup mampukah akal ini mempertanyakan hal-hal fundamental mengenai agama bahkan Tuhan sekalipun? Transformasi pemikiran saya mengantarkan pada suatu kesimpulan, di mana ada koridor-koridor tertentu yang memaksa akal dan rasio ini berhenti ketika dihadapkan pada fakta-fakta spiritual. Banyak hal lain yang saya dapat waktu itu, setidaknya saya bisa lebih fair-minded dalam menghadapi perbedaan pemikiran dan pemahaman keberagamaan. Terima kasih buat Cak Nur yang membuat seorang anak muda di sudut ruang dan sudut waktu yang lain terstimulus untuk berfikir dan berfikir…Selamat jalan Guru Bangsa!

Ketika Cinta Begitu Platonik

Monday, September 5th, 2005

Saya tidak mengerti tiba2 saja di suatu malam pikiran ini begitu melayang dan masuk dalam sebuah imajinasi "liar" yang menarik untuk terus-menerus diselami lebih dalam di malam itu. Pikiran ini bertanya-tanya mengapa cinta ini begitu Platonik, membawa pada sebuah mimpi-mimpi namun seringkali berkonfrontasi dan dibatasi dengan bayang-bayang pikiran yang dikonstruksi oleh hasil pemikiran sendiri. Entah sebuah subyektifitas atau suatu partikular yang menawarkan romantisisme. Tidak terbayang malam itu saya berfikir tentang sesuatu rasa yang pekat dan universal yang selama ini berada di ruang dunia nan jauh di sana yang tidak pernah tersentuh dan tidak sedikit pun saya berusaha menyentuhnya. Sebuah rasa yang sebenarnya dapat memanusiakan saya sebagai manusia. Saya tidak ingat apakah malam itu saya mengingkari diri saya sebagai manusia, atau sebagai eksistensi yang kadang absurd. Namun malam itu saya tersenyum, tenggelam dalam romantisme seorang manusia. (Lagi galau abis gw….!)