Ketika Cinta Begitu Platonik
Saya tidak mengerti tiba2 saja di suatu malam pikiran ini begitu melayang dan masuk dalam sebuah imajinasi "liar" yang menarik untuk terus-menerus diselami lebih dalam di malam itu. Pikiran ini bertanya-tanya mengapa cinta ini begitu Platonik, membawa pada sebuah mimpi-mimpi namun seringkali berkonfrontasi dan dibatasi dengan bayang-bayang pikiran yang dikonstruksi oleh hasil pemikiran sendiri. Entah sebuah subyektifitas atau suatu partikular yang menawarkan romantisisme. Tidak terbayang malam itu saya berfikir tentang sesuatu rasa yang pekat dan universal yang selama ini berada di ruang dunia nan jauh di sana yang tidak pernah tersentuh dan tidak sedikit pun saya berusaha menyentuhnya. Sebuah rasa yang sebenarnya dapat memanusiakan saya sebagai manusia. Saya tidak ingat apakah malam itu saya mengingkari diri saya sebagai manusia, atau sebagai eksistensi yang kadang absurd. Namun malam itu saya tersenyum, tenggelam dalam romantisme seorang manusia. (Lagi galau abis gw….!)
February 7th, 2006 at 9:24 am
kadang hasil konstruksi pikiran sibuk melesat ke arah estetis, yang tidak habis-habisnya untuk dipuaskan, untuk kemudian bisa berlanjut ke tingkat etis untuk mencapai ideologi yang sejati dengan Tuhan..
*dinikmati saja peran sebagai manusia-nya, karena ketika tiba di tahap terakhir, manusia tidak lagi mengidamkan pengertian&kesaksian dari sesama manusia….*
-menghadapi kegalauan yg sama&sedang bertrasnfigurasi menjadi manusia-hahahaha!!
June 28th, 2006 at 8:18 am
Waduhh..kalo cinta dibahasakan kayak gini,,,gw yakin orang tambah sulit untuk memahami cinta..