Gw paling suka sekaligus paling benci denger kalimat "Kalian mahasiswa sebagai agen-agen perubahan"….Kalimat yang sering dilontarkan untuk para "artis-artis" kampus sekaligus "pelacur-pelacur politik" kampus di setiap ritual-ritual mahasiswa yang mereka buat. Kenapa gw bilang "ritual" toh apa yang mereka ucapkan tidak berkaca pada diri mereka sendiri. Misalnya:
Cara Baca:
Kasus = Kata-kata yang sering diucapkan mahasiswa ketika aksi di ritual-ritual kemahasiswaannya.
Fakta = "Toh mereka juga melakukan hal yang sama"
Kasus 1:
"Pemerintah harus bertindak tegas kepada para koruptor dan pengemplang dana BLBI"
Fakta 1:
Lah, situ sendiri punya temen mahasiswa korup or nilep duit kepanitiaan diem aja. Situ sendiri kalo bikin acara mark-up-nya kagak karu-karuan. Situ sendiri bikin laporan pertanggungjawaban kepanitian banyak tipu sana - tipu sini. Situ sendiri bikin kuitansi dobel-dobel, yang satu bilang abis 5 juta, kuitansi yang satunya lagi 500ribu. Situ sendiri kadang kuitansi lo yang isi sendiri, minta bon kosong…selesai.
Kasus 2:
"Privatisasi BUMN serta open tender yang dilakukan pemerintah harus dilakukan secara transparan dan objektif"
Fakta 2:
Lha, ga usah deh mahasiswa sok ngomong gitu. Situ sendiri kalo bidding PO masih aja ada nilai ekstrim, dari golongan gw, gw kasih 100, bukan dari golongan gw, gw kasih aja nol. Kalo gayanya aja udah begitu gimana mau objektif? Katanya transparan. Lha wong waktu gw minta setiap penilai menuliskan nama di lembar penilaian dan minta dipublish penilaiannya aja pada gemeteran. Kalo toh jujur dan objektif dalam penilaian ngapain juga takut?
Kasus 3:
"Elit-elit politik bangsa ini hanya mementingkan jabatan dan kedudukan, bukan rakyat"
Fakta 3:
Lha, setiap suksesi kemahasiswaan aja udah lobi sana-lobi sini, di UI maju jadi calon cuma buat ngeramein aja, katanya sih biar "dinamis" tapi toh pemenangnya sudah ada, yang kalah yah bakal gabung-gabung juga dengan sang "pemenang".
Katanya ga mabuk jabatan, lha ga majuin calon tapi mohon-mohon masukin orang. Minta ini-minta itu lah….
Katanya ingin buat perubahan, tapi pas bahas perubahan kayak apa malah sepi dan ga ada peminatnya. Pas giliran siapa yang akan menjadi ketua ini-ketua itu, lah rame lagi…sebelumnya rapat ini-itu, konsolidasi sana-sini…????
Kasus 4:
"DPR adalah parlemen stempel, lebih mementingkan kepentingan politik masing-masing"
Fakta 4:
Lah ga ngaca, memang kinerja badan perwakilan di kampus lo kaga gitu apa? Trus tunjukin deh ke gw fakultas mana yang badan perwakilannya bener2 jalan dan anggotanya full aktif. Ga ngaca juga, kalo anggota badan perwakilan dan eksekutif dikuasasi mayoritas dari golongan sama apa iya ada mekanisme "check and balances". Waktu jaman sebelum gw nih, mau senatnya kayak apa kek, mau jungkir balik kek, toh LPJ tetep aja "Diterima" tanpa catatan apapun pula.
Kalo begini…masih mau bilang dan ngaku "Agen Perubahan"????
Berkaca pada diri sendiri….