Demokrasi Versus Amnesia Sejarah
Menarik sebuah diskusi di suatu malam, di antara untaian lagu "pop" dan keriuhan malam di akhir minggu, tetep aja ngomongnya sok serius. Kesimpulan diskusi di malam itu mengatakan, Demokrasi tidak bisa berjalan selama masyarakatnya cenderung memiliki penyakit amnesia sejarah. Pencitraan seseorang seharusnya dibangun oleh kekuatan individu yang bersangkutan, namun seringkali pencitraan seseorang yang ada dibangun oleh sekelompok individu si belakangnya. Kondisi ini seperti dua belah mata pisau. Pertama, individu tersebut bisa membangun pencitraannya dengan tidak terlalu sulit. Namun, kedua, hal ini kadang membuat penyakit amnesia sejarah di masyarakat kembali mengakar. Tidak perlu memikirkan bagaimanapun rekam jejak seseorang itu seperti apa, yang penting sekelompok orang di belakangnya mampu menstimulus penyakit amnesia sejarah itu kembali hadir dalam pikiran masyarakat. Implikasi negatifnya apa? demokrasi terpaksa harus memilih individu yang bukan pada kapasitasnya, dan tidak mengikuti alur pikir logika sebenarnya. Harus dipahami, sekalipun demokrasi hadir dari sekumpulan orang yang pada akhirnya tercipta logika rasional untuk memutuskan sesuatu. Namun, terkadang memiliki faktor irrasional yang cukup kental, yang pada akhirnya irrasionalitas lebih mendominasi rasionalitas yang ada. Dan juga, karena kekuatan suara terbesar yang menentukan, sebuah fenomena terjadi, "universalitas seolah-olah mewakili kumpulan-kumpulan partikular"….
Pertanyaan terbesar, sudahkah tercipta iklim alur pikir masyarakat yang seperti ini?
July 1st, 2006 at 6:35 pm
Far, yang gw tangkep dari tulisan lo adalah bahwa Indonesia gak bisa belajar dari sejarah, tolong koreksi kalo salah…
Mungkin kita perlu merenungkan kata-kata kaisar jepang yang ada di film Last Samurai yang dibintangi oleh kembaran gw Tom Cruise..hehehehe.. Yang Mulia bersabda bahwa beliau memimpikan Jepang yang maju dan modern, tapi kita (bangsa Jepang - red.) tidak boleh melupakan siapa diri kita.
Kata-kata yang bagus bukan? Harus kita akui bahwa Indonesia telah mencapai kemajuan luar biasa pesat selama 32 tahun, terlepas dari apakah cara yang ditempuh sehat atau tidak, tapi satu hal yang semakin terlihat nyata, yaitu semakin lupanya kita terhadap “who we really are”, dari mana kita berasal, dan akhirnya mengakibatkan kita lupa pada apa yang sebenarnya kita miliki, dan apa yang semestinya kita lakukan..Gitu Loh…..
July 28th, 2006 at 2:55 am
Fenomena yg loe sebut itu adalah “defisiensi demokrasi”. Itu sebabnya bahwa demokrasi, (kata siapa ya..gw lupa), hanya akan menghasilkan “rational fools”. Demokrasi gak bisa memaksa pemilih untuk bertindak rasional krn kadang yg “irasional” pun jadi”rasional” dalam ajang penegakan demokrasi.
Karena demokrasi memberi tempat bagi apa saja. Maka tak aneh bila irasionalitas mendapat tempat di sana. Namun ketika kita bertanya pada mereka, they would likely answer: “Hey,,what I did was rational!!” Nah lo,,ribet kan jadinya…
regards,,
E.M.
July 28th, 2006 at 2:58 am
demokrasi memberi tempat bagi semua. Maka tak aneh bila irasionalitas mendapat tempat di sana.
Makanya ada ungkapan bahwa demokrasi akan menghasilkan “rational fools”. Ya,,orang2 bodoh yg rasional.
Bahkan ketika misalkan kita bertanya mengapa kamu tidak bertindak rasional (menurut definisi kita),maka they would likely answer:”Hey,,what I did was rational!!!”. Nah lo,,ribet kan jadinya..
regards,,
E.M.