More Wine Minister?

Ada-ada saja kisah di suatu negeri, negeri yang bertubi-tubi mengalami bencana. Bermula di suatu daerah NAD, negeri "serambi mekkah" katanya…ketika itu sang menteri yang mengatur kesejahteraan rakyat dianggap gagal dalam menangani masalah tersebut, dan sang wakil pemimpin negeri itu dibilang terlalu dominan, sehingga sang paduka tidak tercitrakan dengan baik pada saat itu dan dianggap kurang tanggap. Akhirnya, sebuah reshuffle terjadi, dan menteri yang "seharusnya mengurus kesejahteraan" itu pun diganti. Namun, apakah benar diganti dengan yang lebih baik? apakah benar karena sang paduka men-switch posisinya dan tak rela membuangnya karena memegang gerbong kekuatan yang sangat besar?

Katakanlah kita berbaik hati pada sang paduka, yaitu dengan berpikir bahwa sang paduka telah melakukan yang terbaik. Tak selang berapa lama, musibah kembali ke negeri itu, kali ini menimpa sebuah daerah dengan penduduk memiliki hobi menenggak air sisa pencucian keris dan mengagung-agungkan beberapa kerbau…karena berwarna kulit putih, alur pikir masyarakat tersebut menjadi agak terganggu, dan menganggapnya lebih dari sekedar kerbau.

Paduka untuk memutuskan bahwa ia akan tinggal di keraton untuk lebih bisa memantau situasi di daerah itu. Biasanya, bila hal ini terjadi, tentu selain wakil pemimpin yang juga penanggungjawab penanganan bencana seharusnya didampingi oleh menteri yang "seharusnya mensejahterakan rakyat" juga turut hadir. Yah hadir juga sih, tapi….

Negeri ini, para menterinya paling bisa membagi antara kerjaan dengan urusan keluarga. Bencana itu, walaupun konsentrasi pemerintah menjadi tertuju ke sana, tapi tetap di negeri ini keluarga lebih penting katanya.

Malam itu di sebuah pusat keramaian ibukota, di tengah suasana lantunan musik hip hop, dan gemerlap malam itu terenyuhkan sebuah kehadiran yang membuat semua orang tertuju ke sana. Menteri yang "seharusnya mensejahterakan rakyat" ternyata hadir di situ, dengan pengawalan dua orang bersafari. Kedatangannya untuk menemui sang putri yang kebetulan juga ada di tempat yang sama. Akhirnya keduanya larut dalam sebuah obrolan di dalam kegemerlapan bar beraksen Jepang itu. Kelarutan malam terus berlanjut, lantunan musik terus bergema, sayang sang paduka harus terpaksa tidur di keraton, kalah dengan bawahannya yang bisa berbagi "waktu"……Ya..ya..ya…More Wine Minister? suara dentingan gelas wine ternyata mampu mengalahkan dentingan 5,9 skala richter.

Leave a Reply