Tuhan, Agama, dan Universality of Moralism

Penyerangan Israel ke Libanon sedang ramai tersaji dalam berbagai media massa akhir-akhir ini. Sepertinya, peperangan akan kembali menjadi wajah dunia yang tak akan pernah berakhir….Dunia…Dunia…

Ingat pada sebuah buku Clash of Civilization karya Samuel P. Hutington, atau buku lama dengan judul Future Shock karya Alvin Toffler….semua memiliki prediksi di dunia ini pada suatu saat akan terjadi sebuah benturan, baik atas nama budaya, pergerakan atas nama agama, liberalisme, kapitalisme, sosialisme, atau atas nama "Tuhan".

Berbicara masalah Tuhan, paling asik baca buku Sejarah Tuhan karya Karen Amstrong, sebuah buku secara eksploratif menyajikan sejarah pemikiran dan pergulatan manusia mengenai Tuhan.

Lalu apa konsekuensi logis ketika ber-Tuhan, ber-Agama, atau ber-Budaya, terserah itu sifatnya "Samawi" atau "Paganisme". Tentu, semuanya mengundangkan spirit yang sama mengenai universality of moralism. Perdamaian, saling menghormati, tidak saling menyakiti, dan berbagai hal di mana kita secara manusia menginginkan hal-hal yang bersifat kebaikan. Trus, apa konsekuensi logis itu terjadi? Sungguh maaf kalo gw kadang harus bisa bilang "tidak".

There are too many things, kalo boleh gw katakan berbagai kekerasan mengatasnamakan "Agama" atau "Tuhan".

Rangkaian terorisme dan pergerakan radikal mengatasnamakan "Agama" dan menyampaikan pesan "Tuhan" dengan darah, jiwa, korban, dan bahkan air mata. Padahal "Tuhan" sendiri akan tetap memiliki kebesaran tanpa perlu manusia melalukan hal demikian.

Beberapa hal yang kadang membuat gw sulit tertidur di malam hari. Apakah segala permasalahan di dunia ini, krisis ekonomi, pergulatan politik, kesenjangan sosial, kemanusiaan, semuanya hanya sebuah permasalahan marjinal, dan intinya permasalahan yang terjadi di antar negara dunia ini adalah permasalahan "Agama"? Atau mungkin sebaliknya, permasalahan "Agama" dijustifikasi dengan sederetan permasalahan dunia? 

Masih terkait dengan konsekuensi logis yang udah gw utarakan sebelumnya, ber-Tuhan –> ber-Agama –> Universality of Moralism. Dari fase ini, mengapa fase terakhir "universality of moralism" seringkali tidak tercapai? Secara logis, bila ini tidak tercapai, Apakah kita dalam ber-Tuhan, dan ber-Agama tidak dilakukan dengan benar? Masalah ini akan gawat bila terjadi pada orang yang sangat rasionalistik, yaitu bila fase tersebut seringkali terpatahkan, maka orang yang sangat rasionalistik yang sangat mendambakan university of moralism tersebut akan menyimpulkan bahwa kekacauan, kekerasan, ataupun peperangan yang terjadi di dunia ini konsekuensi logis dari manusia tidak melaksanakan dua fase sebelumnya. "Ber-Tuhan dan Ber-Agama." Atau mungkin apakah dua fase tersbut belum efektif, belum optimal, atau sama sekali tidak efektif dan optimal?

Silahkan saja diresapi!

Leave a Reply