Kali itu saya tak menemukan musik jazz di saat yang pas untuk didengarkan sambil menikmati secangkir panasnya kopi dan tercelup pastry di dalamnya. Saat itu alunannya sedikit berbeda, sungguh menggelitik di antara rerumpun pepohonan dan semilir angin malam di FEUI waktu itu. Ya, Mbak Luluk Purwanto kembali hadir seperti tiga tahun sebelumnya di tempat yang sama dengan konsep perpaduan kesenian wayang dan alunan musik jazz. Kali ini membawa konsep berbeda, yaitu berupa perpaduan dengan the helsdingen trio yang sudah cukup lama dan terbilang mumpuni di kancah musik jazz. Tidak hanya sekedar bermain, acara itu punya sebuah visi besar bagaimana menciptakan generasi baru para pemain musik jazz. Jadi, wajar jika acara tersebut diawali oleh para musisi muda yang membalut musik jazz dengan gairah baru. Suatu hal yang tidak pernah ditemukan pada FEUI Allstars…Memang wajah dunia telah merubah image generasi musik jazz. Jazz tidak lagi dimainkan oleh orang tua, berpenampilan sederhana apa adanya yang lebih mengutamakan harmonisasi dan improvisasi dalam bermusik. Namun, tidak halnya dengan saat ini, sebut saja Norah Jones atau Michael Bubble, sebuah semangat jazz baru dengan bungkusan yang lebih apik dan tetap menggeliat di telinga para pecinta musik jazz, terutama kaum muda.
FEUI mungkin terbilang sebagai ikon musik jazz bagi kaum muda atas penyelenggaraan Jazz Goes to Campus tiap tahunnya. Tapi, sepertinya kata "ikon" terlalu jumawa untuk melekat pada nama almamater itu. Dalam kata itu, seharusnya tersirat sebuah gambaran generasi para penerus musik jazz, namun yang ada adalah hanya tergambar generasi para penerus event organizer acara musik jazz. Padahal, waktu terus bergulir, dan apakah mungkin sejarah hanya akan mencatat Chandra Darusman yang dapat disebut sebagai musisi jazz FEUI?
Musik memang tak pernah tua dimakan waktu, namun yang memainkan musik akan tenggelam seiring berjalannya waktu…
Ada satu hal yang juga cukup menarik polemik di malam itu. Selama ini, acara yang diselenggarakan di kampus seperti harus terpisahkan dengan sponsor rokok. Malam itu pikiran pun melayang saat-saat ketika menjadi ketua senat yang menolak sebuah perushaan rokok yang ingin menyelenggarakan acara musik akustik di kolam makara FEUI. "View-nya bagus!" kata seorang bagian humas salah satu stasiun TV. Tapi, taruhlah mungkin ini sebuah idealisme untuk tidak menelan air ludah sendiri yang tidak menghendaki adanya sponsor rokok di kegiatan kemahasiswaan waktu itu, yang pada akhirnya membuat mulut ini mengatakan, "Maaf Pak, sepertinya kita tidak bisa bekerjasama dalam hal ini". Ternyata kata-kata saya itu membuat pertemuan dengan pihak stasiun TV itu tidak untuk terakhir kalinya. Ada sekitar dua pertemuan lanjutan dengan ikut hadir sang produser bagian acara itu. Tapi tetap saja jawaban saya waktu itu, "Maaf Pak, sepertinya kita benar-benar tidak bisa bekerjasama dalam hal ini". Berbeda memang dengan situasi sekarang, saat ini mungkin sudah "sah-sah" saja menyelenggarakan sebuah acara bertajuk MEZZO JAZZ, Djarum Super…Namun, di malam itu pikiran ini sepertinya tak mau ambil pusing, sepertinya hati ini berbicara "Sudahlah ini kan bukan jaman gue lagi", yah memang alunan musik jazz di malam itu terlalu sayang dilewatkan dengan hanya memikirkan hal yang tidak-tidak…
Depok, 7 September 2006