Archive for September, 2006

Interupsi Sejarah

Friday, September 8th, 2006

Sepertinya iringan waktu membawa batin ini tersadar bahwa apa yang telah dilakukan selama ini hanya akan menjadi sebuah interupsi, suatu hal yang hanya sekedar lewat, sepertinya layaknya dalam sebuah rapat besar dengan gemuruh lontaran pendapat yang sudah jelas siapa memihak siapa…"Interupsi" hanya akan dianggap angin lalu tanpa pernah sempat memahami kedalaman esensinya….

Sepertinya sebuah sejarah memang tidak bisa ditorehkan oleh sebuah pena dengan tidak begitu jelas warna tintanya. Tidak terlampau merah, dan juga tidak dapat dibilang hijau. Sejarah sepertinya hanya akan tercatat apabila alunan pena perjalanannya menegaskan bahwa sebuah tinta sejarah memang terlampau merah atau terlalu hijau….

Kita memang seringkali tak pernah belajar dari hidup, di mana kadang perlunya melepaskan belenggu warna untuk melihat terangnya dunia secara objektif…

Kita juga perlu sesekali menyadari, bahwa segala waktu, tenaga, pikiran yang dikorbankan selama ini pada akhirnya tidak pernah dianggap sebagai bagian dari torehan sejarah. Namun biarlah, setidaknya waktu telah menunjukkan sejarah pernah ter-"interupsi", walaupun hanya sekedar lewat….

FEUI, Jazz, dan Rokok

Friday, September 8th, 2006

Kali itu saya tak menemukan musik jazz di saat yang pas untuk didengarkan sambil menikmati secangkir panasnya kopi dan tercelup pastry di dalamnya. Saat itu alunannya sedikit berbeda, sungguh menggelitik di antara rerumpun pepohonan dan semilir angin malam di FEUI waktu itu. Ya, Mbak Luluk Purwanto kembali hadir seperti tiga tahun sebelumnya di tempat yang sama dengan konsep perpaduan kesenian wayang dan alunan musik jazz. Kali ini membawa konsep berbeda, yaitu berupa perpaduan dengan the helsdingen trio yang sudah cukup lama dan terbilang mumpuni di kancah musik jazz. Tidak hanya sekedar bermain, acara itu punya sebuah visi besar bagaimana menciptakan generasi baru para pemain musik jazz. Jadi, wajar jika acara tersebut diawali oleh para musisi muda yang membalut musik jazz dengan gairah baru. Suatu hal yang tidak pernah ditemukan pada FEUI Allstars…Memang wajah dunia telah merubah image generasi musik jazz. Jazz tidak lagi dimainkan oleh orang tua, berpenampilan sederhana apa adanya yang lebih mengutamakan harmonisasi dan improvisasi dalam bermusik. Namun, tidak halnya dengan saat ini, sebut saja Norah Jones atau Michael Bubble, sebuah semangat jazz baru dengan bungkusan yang lebih apik dan tetap menggeliat di telinga para pecinta musik jazz, terutama kaum muda.

FEUI mungkin terbilang sebagai ikon musik jazz bagi kaum muda atas penyelenggaraan Jazz Goes to Campus tiap tahunnya. Tapi, sepertinya kata "ikon" terlalu jumawa untuk melekat pada nama almamater itu. Dalam kata itu, seharusnya tersirat sebuah gambaran generasi para penerus musik jazz, namun yang ada adalah hanya tergambar generasi para penerus event organizer acara musik jazz. Padahal, waktu terus bergulir, dan apakah mungkin sejarah hanya akan mencatat Chandra Darusman yang dapat disebut sebagai musisi jazz FEUI?

Musik memang tak pernah tua dimakan waktu, namun yang memainkan musik akan tenggelam seiring berjalannya waktu…

Ada satu hal yang juga cukup menarik polemik di malam itu. Selama ini, acara yang diselenggarakan di kampus seperti harus terpisahkan dengan sponsor rokok. Malam itu pikiran pun melayang saat-saat ketika menjadi ketua senat yang menolak sebuah perushaan rokok yang ingin menyelenggarakan acara musik akustik di kolam makara FEUI. "View-nya bagus!" kata seorang bagian humas salah satu stasiun TV. Tapi, taruhlah mungkin ini sebuah idealisme untuk tidak menelan air ludah sendiri yang tidak menghendaki adanya sponsor rokok di kegiatan kemahasiswaan waktu itu, yang pada akhirnya membuat mulut ini mengatakan, "Maaf Pak, sepertinya kita tidak bisa bekerjasama dalam hal ini". Ternyata kata-kata saya itu membuat pertemuan dengan pihak stasiun TV itu tidak untuk terakhir kalinya. Ada sekitar dua pertemuan lanjutan dengan ikut hadir sang produser bagian acara itu. Tapi tetap saja jawaban saya waktu itu, "Maaf Pak, sepertinya kita benar-benar tidak bisa bekerjasama dalam hal ini". Berbeda memang dengan situasi sekarang, saat ini mungkin sudah "sah-sah" saja menyelenggarakan sebuah acara bertajuk MEZZO JAZZ, Djarum Super…Namun, di malam itu pikiran ini sepertinya tak mau ambil pusing, sepertinya hati ini berbicara "Sudahlah ini kan bukan jaman gue lagi", yah memang alunan musik jazz di malam itu terlalu sayang dilewatkan dengan hanya memikirkan hal yang tidak-tidak…

Depok, 7 September 2006

Menjadi Pahlawan Bagi Negeri Lain Tapi Menjadi Pecundang di Negeri Sendiri

Friday, September 8th, 2006

    Akhir-akhir ini terus terang gue agak sedikit bingung melihat manuver politik luar negeri yang dimainkan Indonesia, khususnya mengenai pengiriman pasukan Indonesia ke Libanon. Mungkin memang ada saatnya Indonesia mulai menunjukkan taring diplomasinya dalam kancah polemik berkepanjangan yang berlangsung di Timur Tengah. Di satu sisi, memang perlu sebuah negara memiliki sikap untuk menunjukkan eksistensinya dalam menyikapi permasalahn di dunia, mungkin dalam hal ini Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.
    Namun, siapa sangka anggaran yang dibutuhkan untuk proses pengiriman pasukan Indonesia ke Libanon ternyata memiliki besaran yang sangat signifikan. Sebut saja untuk operasional dibutuhkan Rp 32 miliar, persiapan keberangkatan Rp 1,269 miliar, latihan pratugas Rp 0,9322 miliar, pemberangkatan Rp 0,445 miliar, penugasan 3 bulan Rp 29,2 miliar, angkutan PBB Rp 35 miliar, dan pembelian tambahan 32 panser VAB Perancis Rp 287 miliar. Jadi, total anggaran untuk pengiriman pasukan adalah sebesar Rp 355,75 miliar, sedangkan kompensasi bantuan dari PBB hanya sebesar Rp 35 miliar untuk Indonesia.
    Pengeluaran tersebut seakan sebuah gerakan heroik yang menyeruak dari pemerintah Indonesia untuk turut serta dalam percaturan global. Namun, seolah-olah kita lupa, masalah di negeri kita sendiri tidak pernah ada henti-hentinya. Sebut saja dana kompensasi bencana gempa yang proses penurunannya mengalami ketidakjelasan, konflik antar suku di Papua yang tak kunjung selesai, semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang seakan terus mengalir tiada hentinya, kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung terungkap, masalah kontroversi impor beras yang selalu menjadi polemik klasik dari tahun ke tahun, belum lagi seputaran data kemiskinan yang ternyata BPS harus mencatatkan terjadi peningkatan penduduk miskin sekitar 3,9 juta jiwa, serta  permasalahan korupsi yang masih terus menghantui perjalanan bangsa ini.
    Sekiranya pemerintah Indonesia mempertimbangkan capacity building yang hadir di mata publiknya sendiri, sebelum menembus kebijakan batas teritorialnya. Mungkin judul tulisan ini menyebutkan bahwa Indonesia mencoba menjadi pahlawan untuk negeri lain namun kadang menjadi pecundang di negerinya sendiri. Mungkin yang perlu dijawab, apakah keputusan pengiriman pasukan tersebut memang sudah mempertimbangkan secara proporsional dengan situasi di dalam negeri?
    Mungkin saatnya juga sang penulis tidak perlu mencibir terlalu jauh mengenai sebuah kebijakan yang terlampau diputuskan. Dengan berdasarkan sebuah pemikiran dan prasangka baik, semoga saja semangat heroik Indonesia untuk menjadi pahlawan di Libanon, turut menghantam pundi-pundi Israel, membawa secercah harapan untuk juga menjadi pahlawan dan heroik di negerinya sendiri. Semoga….Wallahu’alam