Menjadi Pahlawan Bagi Negeri Lain Tapi Menjadi Pecundang di Negeri Sendiri
Akhir-akhir ini terus terang gue agak sedikit bingung melihat manuver politik luar negeri yang dimainkan Indonesia, khususnya mengenai pengiriman pasukan Indonesia ke Libanon. Mungkin memang ada saatnya Indonesia mulai menunjukkan taring diplomasinya dalam kancah polemik berkepanjangan yang berlangsung di Timur Tengah. Di satu sisi, memang perlu sebuah negara memiliki sikap untuk menunjukkan eksistensinya dalam menyikapi permasalahn di dunia, mungkin dalam hal ini Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.
Namun, siapa sangka anggaran yang dibutuhkan untuk proses pengiriman pasukan Indonesia ke Libanon ternyata memiliki besaran yang sangat signifikan. Sebut saja untuk operasional dibutuhkan Rp 32 miliar, persiapan keberangkatan Rp 1,269 miliar, latihan pratugas Rp 0,9322 miliar, pemberangkatan Rp 0,445 miliar, penugasan 3 bulan Rp 29,2 miliar, angkutan PBB Rp 35 miliar, dan pembelian tambahan 32 panser VAB Perancis Rp 287 miliar. Jadi, total anggaran untuk pengiriman pasukan adalah sebesar Rp 355,75 miliar, sedangkan kompensasi bantuan dari PBB hanya sebesar Rp 35 miliar untuk Indonesia.
Pengeluaran tersebut seakan sebuah gerakan heroik yang menyeruak dari pemerintah Indonesia untuk turut serta dalam percaturan global. Namun, seolah-olah kita lupa, masalah di negeri kita sendiri tidak pernah ada henti-hentinya. Sebut saja dana kompensasi bencana gempa yang proses penurunannya mengalami ketidakjelasan, konflik antar suku di Papua yang tak kunjung selesai, semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang seakan terus mengalir tiada hentinya, kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung terungkap, masalah kontroversi impor beras yang selalu menjadi polemik klasik dari tahun ke tahun, belum lagi seputaran data kemiskinan yang ternyata BPS harus mencatatkan terjadi peningkatan penduduk miskin sekitar 3,9 juta jiwa, serta permasalahan korupsi yang masih terus menghantui perjalanan bangsa ini.
Sekiranya pemerintah Indonesia mempertimbangkan capacity building yang hadir di mata publiknya sendiri, sebelum menembus kebijakan batas teritorialnya. Mungkin judul tulisan ini menyebutkan bahwa Indonesia mencoba menjadi pahlawan untuk negeri lain namun kadang menjadi pecundang di negerinya sendiri. Mungkin yang perlu dijawab, apakah keputusan pengiriman pasukan tersebut memang sudah mempertimbangkan secara proporsional dengan situasi di dalam negeri?
Mungkin saatnya juga sang penulis tidak perlu mencibir terlalu jauh mengenai sebuah kebijakan yang terlampau diputuskan. Dengan berdasarkan sebuah pemikiran dan prasangka baik, semoga saja semangat heroik Indonesia untuk menjadi pahlawan di Libanon, turut menghantam pundi-pundi Israel, membawa secercah harapan untuk juga menjadi pahlawan dan heroik di negerinya sendiri. Semoga….Wallahu’alam
September 8th, 2006 at 8:50 am
wah ka gaffar blogna berat banget isinya… gw bacanya rada-rada soalnya udah malem
tapi gw setuju banget. bikin indonesia di mata dunia ada aja ampe ngorbanin duit banyak banget.
mendingan bwt pendidikan. udah jelas banyak sekolah sd yang mo ambruk. banyak ga sekolah gara-gara ga punya uang.
kayak gw nih. bwt beli buku aja udah suseh. mana FEUi nerapin harus buku asli lagi. hehehe… kan berat banget tuh (udah bukunya berat eh harganya juga mahal)
September 9th, 2006 at 5:40 am
Sebaiknya anggaran tersebut disupport oleh PBB, menurut saya pengiriman pasukan ditinjau dari aspek politik luar negeri adalah hal yang positif. Saya setuju dengan Anda soal anggaran, tapi memang pasukan Garuda perlu ransum yang reasonable karena itu merupakan tugas yang terhormat.