Lebaran Oh Lebaran
Saya pikir saya sebagai penganut agama Islam berdiri pada suatu nilai-nilai yang universal, rahmatan lil alamin, kebaikan seluruh umat manusia. Namun, menjelang peringatan hari raya idul fitri ini, selalu saja situasi itu menyiratkan alam bawah sadar saya bahwa saya ternyata berdiri pada suatu nilai-nilai yang partikular. Sebut saja, perdebatan kapan munculnya hilal dalam penentuan tanggal 1 Syawal yang selalu berujung pada sebuah perbedaan pendapat, baik itu kalangan Muhammadiyah, NU, maupun pemerintah itu sendiri. Kenapa terjadi partikularitas di sini, yah lihat saja nanti Senin, 23 Oktober 2006, di satu sisi ada sebagian masyarakat kita dengan gegap gempita merayakan Hari Kemenangannya, sedangkan sebagian lagi masih menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu karena masih menjalankan ibadah puasa. Anehnya, padahal kita berdiri pada satu tanah air yang sama, bahkan mungkin satu komplek perumahan yang sama.
Saya tidak mengerti mengapa tidak pernah ada konsensus bersama di antara pemimpin besar umat Islam ini untuk membuat suatu kesepakatan ataupun standarisasi yang sama dalam penentuan 1 Syawal. Atau mungkin, mengapa kita tidak menggunakan jasa para astronomi dan ahli meteorologi, yang tentu lebih ahli dalam melihat pergerakan bulan dan bintang. Hmmm, atau mungkin para alim ulama itu memang ingin memonopoli segala aspek kehidupan?
Partikularitas dalam Islam sendiri sudah sering saya rasakan, terutama ketika Islam sudah masuk dalam ranah Politik. Antara ambisi kelompok, ambisi pribadi, opportunistik, kekuasaan, dan hegemoni berbaur dengan nilai-nilai atas nama Islam. Mungkin benar apa kata Machiavelli, dalam politik untuk mengetahui apa dibalik perjuangan politik tersebut, mau tidak mau kita harus mencoba memisahkan antara nilai-nilai moral maupun religi untuk melihat Politik sebagai "what is" bukan sebagai "ought to be." Memang sedikit sekular, tapi itu lebih baik daripada menunggangi kepentingan pribadi atau segelintir kelompok atas nama agama.
Saya juga baru memahami mengapa pada akhirnya negara-negara Islam sebagian besar berada dalam status negara miskin. Sekalipun maju, negara tersebut memiliki potensi konflik yang bisa mencuat kapan saja. Hal ini, akibat varian dari Islam sendiri yang cukup banyak, sebuah akibat proses penafsiran ayat-ayat Allah yang berbeda-beda. Tak mengapa bila perbedaan penafsiran itu memperkaya khasanah dari pemikiran dalam Islam itu sendiri. Dari berbagai forum yang saya ikuti, perbedaan itu justru selalu berbuntut pada saling melempar ucapan "Kafir-Mengkafir" ataupun menfatwakan "Darah Halal" antar satu kelompok dengan kelompok lainnya, padahal mereka masih sesama Muslim. Dengan hal ini, bagaimana sebuah negara memikirkan bagaimana menciptakan sebuah tatanan ekonomi, politik dan teknologi canggih apabila hampir separuh pikiran dan tenaga dihabiskan untuk hal demikian.
Saya sendiri seperti berada di persimpangan jalan, ke mana harus melabuhkan kaki ini sebagai umat Islam untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Namun, dengan berbagai konflik, perbedaan, permusuhan, dan ambisi kelompok, membuat hati ini seringkali tidak nyaman. Lebih baik menjadi diri sendiri, ikuti saja ke mana kaki ini melangkah….
Mungkin sepertinya perlu saja saya sudahi saja segala macam perdebatan itu yang selama ini berkecamuk di kepala. Sebagai seorang pemuda yang bukan Muhammadiyah dan juga bukan NU tapi saya tetap berpegang teguh dengan Islam dikesempatan ini mau mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga segala kebaikan yang ada di bulan Ramadhan akan terus terinternalisasi di bulan-bulan yang lainnya.