Archive for February, 2007

Pak Tua, Sudahlah!

Tuesday, February 27th, 2007

Memang sulit dalam kehidupan ini di mana perbedaan generasi seringkali menjadi kendala untuk mempersatukan perspektif secara bersama-sama. Apalagi menghadapi generasi tua yang lahir dengan perbedaan dekade yang cukup jauh berbeda. Mungkin adakalanya generasi muda merasa frustasi menghadapi generasi yang selain tua, juga pesakitan politik, dan post-power-syndrom. Kaum tua ini merasa bahwa hanya generasinyalah yang paling unggul dibandingkan generasi sesudahnya. Mereka terus saja berfikir bagaimana bagian generasi yang lain berubah atau mengikuti menurut apa yang dipikirkannya, bukan mereka yang mencoba beradaptasi dan berkompromi dengan lingkungan yang kian hari kian terus mengalami perubahan.
Kaum ini lagaknya sangat megalomaniak, arogan, dan layaknya ratu adil yang bisa menyelesaikan semua masalah di dunia ini. Retorikanya membuai mimpi, namun sayang mereka seringkali tidak berkaca pada diri sendiri.

Pernah berbicara dengan pongahnya mengenai pentingnya peran demokrasi dalam membangun peradaban, namun apa daya pada kesehariannya, sungguh sangat otoriter dalam membina keluarga.
Pernah bicara mengenai peran ilmu pengetahuan dan teknologi, pentingnya peran teknologi informasi dalam era globalisasi, namun jangankan menggunakan internet, menjalankan program standar microsoft word, power point, apalagi excel pun tak bisa, menggunakan teknologi sms pun diketiknya dengan tertatih-tatih melalui jari-jemarinya yang sudah kaku.
Pernah bicara soal moral dan etika, namun sayangnya sikapnya seringkali tidak sesuai apa yang diucapkan, selalu saja mengharap bagaimana orang lain seharusnya bersikap padanya, namun tidak terjadi sebaliknya, yaitu bagaimana seharusnya dia bersikap pada orang lain.

Pak Tua, sudahlah…..Dunia ini terus mengalami perubahan, tak bisa semua dijadikan berwarna homogen dengan kacamata anda yang kian lama kian menghitam dan buram.
Pak Tua, sudahlah…..Cukup hentikanlah semua, dan jangan selalu remehkan kami generasi muda yang mencoba mewarnai hidup ini dengan warna kami sendiri.
Pak Tua, sudahlah…..Kami semua tahu apa yang sebenarnya pada dirimu, kami berterimakasih atas segala nasihat dan tuntunan yang telah kau berikan, namun jangan paksa kami untuk mencoba mengisi jalan kehidupan kami seindah angan dan utopia mimpimu. Biarkanlah kami renungi dan putuskan jalan terbaik untuk kami sendiri dan memperbaiki bangsa ini.
Pak Tua, sudahlah…..Jangan hentikan kami untuk bermimpi menggapai semua angan dan cita-cita kami.

Pak Tua, bukankah semua hal besar diawali dengan sebuah mimpi?

Kami sadar Pak Tua sudah tak ingat lagi mengapa pada akhirnya manusia bisa menginjakkan kaki di bulan.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi pernah diketemukannya sebuah bohlam lampu yang sekarang kami bisa merasakan terangnya dunia di malam hari.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi bagaimana pada akhirnya manusia bisa terbang di udara.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi bahwa kami sudah bisa bercakap-cakap dengan manusia di belahan bumi yang lain melalui sebuah telefon.

Apakah semua itu akan terjadi apabila manusia tidak pernah bermimpi?

Pak Tua, apakah salah kami bermimpi ataupun bercita-cita menuntut ilmu setinggi-tingginya dan menggapai sebuah pengalaman hidup kami yang lain untuk tinggal di negeri seberang dan kembali ke negeri kami dilahirkan untuk membangun dan memperbaikinya, dibandingkan beberapa teman seusia kami yang harus menghabiskan hidupnya dalam jeratan narkoba dan kehidupan seks bebas.
Pak Tua, apakah salah kami mencoba berkontribusi untuk bangsa ini yang terkadang lebih kami cintai dibandingkan diri kami sendiri. Walapun negeri ini tidak peduli pada kesejahteraan kami sendiri…Padamu negeri, jiwa raga kami…..
Pak Tua, apakah salah kami terus-menerus mengkritisi para elitis negeri ini yang tidak kunjung sadar dan bertobat untuk tidak terus-menerus menghancurkan negeri ini yang semakin lama semakin rapuh.
Pak Tua, jangan salahkan kami yang harus memilih jalan kami sendiri akibat perbuatan kaum dirimu yang semakin membulatkan tekad pada diri kami agar pada saatnya nanti generasi setelah kami tidak bernasib sama dengan kami atau lebih baik dari kami.
Pak Tua, waktu terus berputar, dunia terus berubah, apa yang terjadi hari ini tidak bisa kau samakan dengan hari kemarin, dan mungkin apa yang dilakukan hari ini, tidak bisa kau terapkan hal yang sama di masa yang akan datang.
Pak Tua, sudahlah, izinkan kami mencoba mewarnai kehidupan kami dengan warna kami sendiri……

Pak Tua, sudahlah!
Pak Tua, sekali lagi, sudahlah!
Pak Tua, kami memohon, sudahlah!
Pak Tua, sekali lagi kami memohon, sudahlah!

Di sudut jalan M.H. Thamrin
Jakarta, 26 Februari 2007
21.20 WIB

Politisasi Cinta

Monday, February 26th, 2007

Ada-ada saja kelakuan beberapa kawan, sampai-sampai urusan percintaan saja perlu menggunakan manuver-manuver yang sedikit politis.

Pertama, antara persaingan dua individu untuk mendapatkan seorang wanita. Individu A menggunakan cara mendekati sang wanita dengan berusaha dekat selain dengan diri wanita itu dan juga dengan teman-teman terdekatnya. Tujuannya, jelas saja untuk mendapatkan dukungan dari teman-teman terdekatnya, sehingga rekomendasi, perspektif dan sugesti yang tercipta semuanya me-leading wanita itu pada pria yang dimaksud yaitu individu A. Berbeda dengan individu B, mungkin orang ini sedikit kurang beruntung, di mana kurang mendapatkan tanggapan positif dari teman-teman terdekat sang wanita, meskipun wanita itu merasa oke-oke saja dengan individu B. Namun, individu B melancarkan strategi yang berbeda, yaitu dengan mendekati keluarga termasuk orang tua, adik, kakak, sampai saudara-saudara dari wanita itu. Jadi, rekomendasi, perspektif dan sugesti yang tercipta dari keluarga besar sang wanita ter-leading pada individu B. Posisi individu B mungkin sedikit diuntungkan di mana individu A kurang mendapatkan tanggapan positif dari keluarga sang wanita. Baiklah, jadi dapat kita simpulkan adalah individu A, manuver yang dilakukan fokus pada tataran akar rumput (grass root), sedangkan individu B, fokus pada tataran elitis.

Lalu, mana yang lebih efektif? Tergantung dari akan sampai mana hubungan dengan sang wanita ini akan dibawa ke arah mana. Apabila tujuan yang ingin dicapai oleh kedua individu itu adalah jenjang yang sangat serius seperti pernikahan, individu B mungkin agak sedikit diuntungkan, karena keputusan untuk melakukan pernikahan tidak hanya pertalian dua individu saja, melainkan juga pertalian dua buah keluarga besar yang berbeda. Maka, individu B akan lebih mudah untuk bermanuver ataupun menyampaikan maksud dan tujuan yang akan dicapainya kepada keluarga sang wanita. Bagaimana dengan individu A, posisinya bisa saja tetap baik, terutama ketika menjalin hubungan sebatas “pacaran” karena bagaimanapun juga peran teman terdekat lebih mudah untuk mendukung hal ini, dan selama hubungan ini terjalin, pihak keluarga dapat dijadikan “pihak eksternal” yang tidak perlu tahu-menahu mengenai hal ini. Anak muda jaman sekarang taulah, ada-ada saja cara bagaimana mengelabui orang tua, you know lah!

Kira-kira nih, ekuilibrium atau titik terakhir yang terjadi akan bagaimana? Bisa jadi begini, individu B awalnya harus berbesar hati membiarkan selama beberapa waktu sang wanita berhubungan “pacaran” dengan individu A, yah selama hubungannya itu, mereka bisa saja membicarakan mengenai masa depan, hubungan serius, bagaimana pernikahan mereka berdua nanti, dan seterusnya. Namun pada saatnya nanti, dalam kenyataan posisinya ternyata akan terbalik karena bagaimanapun juga namanya hubungan pacaran kagak jaminan bakal berujung pada pernikahan, betul? Okelah, suatu saat nanti biarkanlah individu A harus gigit jari atau mungkin patah hati membiarkan sang wanita kenyataannya harus menikah dengan individu B. Hmm…Tragis memang, dan mungkin begitulah hidup ini, just play a game guys! And be fair enough Ha3…..

Kasus kedua, mungkin ada hal yang seringkali benar, bahwa suatu rencana yang dibuat dan diumumkan terlalu dini seringkali mengalami kegagalan dibandingkan rencana yang dibuat tanpa perlu diumumkan. Mengapa begitu, mungkin istilahnya announcement effect, di mana sebuah pengumuman mengenai sesuatu oleh satu pihak kepada pihak tertentu ternyata memberikan reaksi kepada pihak-pihak lainnya. Seringkali, reaksi-reaksi dari pihak lainnya ini kadang lebih memberikan situasi yang tidak kondusif untuk mencapai tujuan tersebut, karena bagaimanapun juga hasil pengumuman yang dibuat akan membuat berbagai pihak menyoroti berbagai tindakan yang dilakukan individu yang dimaksud. Dengan demikian, segala gerak-gerik individu itu akan mudah terbaca atau dapat mungkin disalahtafsirkan oleh interpretasi berbagai pihak yang sering ditambahkan “racikan-racikan” yang sedikit provokatif.

Lalu, bagaimana solusinya, misalnya begini, pria A ingin mendekati seorang wanita. Supaya segala tindak-tanduknya tidak terbaca adalah bagaimana opini yang tercipta di tataran publik berbeda nyata dengan apa yang dia lakukan di tingkat realitasnya. Caranya bagaimana? Mungkin sedikit kejam kali ya, yaitu kita membutuhkan pria lain, sebut saja pria B, sebagai martir, maksudnya? Pria ini yang pada akhirnya diciptakan imagenya di tataran opini publik sebagai pihak yang mendekati wanita tersebut. Apabila opini publik yang tercipta berhasil yaitu bahwa pria B sedang berusaha mendekati sang wanita maka dengan demikian pria A akan lebih mudah melancarkan segala manuvernya untuk mendapatkan sang wanita tersebut, tanpa ada kasak-kusuk dari pihak lain mengenai segala tindak-tanduk yang dilakukannya. Lalu, bagaimana kira-kira ekuilibrium atau titik akhir dari manuver ini? Yah, bersiap-siaplah publik akan tercengang-cengang kalo ternyata sang wanita ternyata mengumumkan bahwa dirinya berhubungan dengan pria A, bukan pria B. Hmm…a lil’ bit shocked memang, dan mungkin begitulah hidup ini, just play a game guys!

Kasus ketiga, mungkin kasus ini diilhami dari sebuah kisah pemenang nobel ekonomi yang menghasilkan teori Nash equilibrium. Jadi begini kisahnya, biasanya kita-kita ini baik pria maupun wanita pasti akan menciptakan peer group-peer group tersendiri, bahasanya populernya nge-gank lah. Nah, misalkan di suatu tempat entah itu di kafe, klab, atau tempat-tempat biasanya berkumpul anak-anak muda gitu kali ya, ada sebuah gank pria dan gank wanita bertemu. Namanya juga laki-laki, pasti akan ada hasrat menyukai lawan jenis (sorry analisis ini gagal untuk gank homo), pastinya dalam suatu gank wanita itu pasti ada satu wanita yang bisa dibilang paling cakep, sebut saja rating #1, yang membuat semua pria dalam gank cowo itu berdecak kagum. Nah, kira-kira apa yang akan terjadi? Setidaknya, pasti semua pria dalam gank cowo itu akan memikirkan bagaimana caranya mendapatkan wanita dengan rating #1 tersebut. Hasilnya kira-kira bagaimana, mungkin bisa terjadi persaingan yang sehat, dan lebih mungkin lagi terjadi persaingan yang kurang sehat di antara pria-pria itu, mengapa? Karena namanya juga satu gank, pastilah mau tidak mau pada akhirnya pria satu mengetahui apa yang dilakukan pria lainnya, dan ini bisa menjadi perselisihan internal, dan mungkin perpecahan dalam tubuh gank itu. Atau bisa jadi, kondisi yang tercipta bisa lebih parah, yaitu sudah terjadi perpecahan gank dan tidak ada satupun pula yang mendapatkan wanita rating #1 tersebut.

Nah, kira-kira bagaimana sebaiknya? Harus ada minimal satu pria, sebut saja pria A, yang berfikir sedikit berbeda, di mana ketika semua teman-temannya memikirkan wanita rating #1 (first-best) dia memikirkan wanita yang cantiknya sedikit di bawah rating #1 atau sebut saja rating #2 (second-best). Lalu, kira-kira ekuilibrium atau titik akhirnya bagaimana? Biarkanlah teman-teman pria yang lain bertengkar untuk mendapatkan wanita rating #1, dan pria A dapat melenggangkan langkahnya untuk mendapatkan wanita rating #2 tanpa perselisihan dan berjalan penuh damai. Akhirnya bisa saja begini, teman-teman pria yang lain bertengkar dan saling bermusuhan dan juga pada akhirnya tidak satupun mendapatkan wanita rating #1 tersebut, dan pria A hidup damai dan mendapatkan wanita rating #2. Sometimes the second-best choice is better than the first-best choice……. Hmm…. mungkin begitulah hidup ini, just play a game guys!

Oke deh, mungkin tulisan ini cuma remeh temeh, but setidaknya it’s quite entertain enough…..

Cocoknya diakhiri dengan statement yang biasa mengakhiri film kartun tiny toons, That’s all folks! Ha3…………..

Belum Cukupkah Ujian-Mu Tuhan?

Monday, February 26th, 2007

Belum cukupkah segala ujian Tuhan terhadap bangsa kita ini. Berbagai bencana yang terjadi sepertinya lengkap sudah. Di darat, berbagai kecelakaan transportasi seperti kereta api yang terus saja seringkali mengalami anjlok dengan korban yang tidak sedikit. Di laut, beberapa kapal dengan penumpang hingga ribuan seringkali mengalami tenggelam di tengah lautan. Adapun korban yang selamat harus mengalami pengalaman traumatis terapung-apung di lautan hingga beberapa hari, dan juga ada yang harus tenggelam tak ditemukan, ataupun harus mengalami kapal yang terbakar di laut dengan tanpa pengetahuan keselamatan transportasi yang baik. Di udara, beberapa kali kecelakaan terjadi dan yang sangat fenomenal hilangnya pesawat Adam Air yang hingga hari ini tidak kunjung ditemukan. Sudah cukupkah ujian-Mu Tuhan?

Ternyata belum. Berbagai bencana alam pun ternyata terus saja menghujam negeri ini. Gempa bumi, yang menimpa berbagai penjuru di tanah air, mulai dari tsunami di Aceh, gempa bumi di Jawa Tengah dan Yogyakarta hingga gempa bumi yang menimpa beberapa kawasan timur di Indonesia. Belum lagi bencana banjir, yang tidak peduli menimpa daerah manapun, termasuk ibukota negara kita, di mana pusat 80 persen kekuatan ekonomi Indonesia berada, dan pula di mana pusat kekuasaan yang mengatur segenap negeri ini digerakkan, bagaimanapun juga harus mengalami kelumpuhan dengan hampir 60 persen wilayahnya digenangi air. Selain itu, negeri inipun harus mengalami kewaspadaan di mana angin puting beling terus saja menghancurkan rumah-rumah kami. Bencana banjir tidak hanya air, namun wilayah Sidoarjo, Jawa Timur penduduknya terus mengalami ketidakjelasan akibatnya tempat tinggalnya terendam lumpur panas, tinggal di penampungan dengan kehidupan yang sungguh tidak layak. Sudah cukupkah ujian-Mu Tuhan?

Ternyata juga belum. Di tengah-tengah beberapa wilayah yang mengalami kebanjiran, ada wilayah lain ternyata harus mengalami kekeringan hingga mengalami gagal panen untuk tahun ini. Belum lagi beberapa penduduk negeri ini harus bertahan hidup hanya dengan memakan nasi aking, dan anak-anak tidak menerima gizi yang harusnya mereka terima dengan baik akibat ekonomi keluarga yang semakin hari semakin sulit. Lalu sudah cukupkah ujian-Mu Tuhan? Ternyata masih juga belum, berbagai penyakit menerjang negeri ini, mulai dari korban meninggal akibat flu burung yang terus berjatuhan, dan juga korban demam berdarah yang dari hari ke hari terus saja bertambah.

Lalu, bagaimana selanjutnya Tuhan? Apakah Engkau mulai meninggalkan negeri ini? Atau, Engkau memang telah lama meninggalkan tempat ini? Atau mungkin semua ujian ini adalah wujud kasih sayang diri-Mu kepada kami yang terlalu tamak dan rakus serta gagal untuk menjadi khalifah di negeri ini yang Kau amanahkan?

Bagaimanapun, di tengah rasa kalut, pedih, dan kegamangan negeri ini yang tak kunjung selesai kami berusaha untuk tidak mengakui dan mentakzimkan sebuah diktum bahwa Tuhan telah mati, seperti yang diungkapan filsuf Nietczhe beberapa abad yang lalu, yang setelah mengucapkan diktum itu ia tak lama hidup di dunia ini. Atau, segala ujian ini, kami makin menyadari akan eksistensi sesuatu yang transenden mengenai diri-Mu, atau eksistensi kita sebagai manusia yang penuh segala kekurangan seperti dalam eksistensialisme dan humanisme kata Jean Paul Sartre.

Negeri inipun selalu saja seperti tidak pernah belajar dari apa yang telah terjadi, layaknya pikiran para penghuni ini yang terlalu miopik, segala sesuatu dipikirkan hanya jangka pendek. Memang seperti itu, atau apa kita semua sedang memakzulkan bahwa kita semua dalam jangka panjang akan mati, seperti yang diungkapkan John Maynard Keynes. Oleh karena itu, pikiran kita dalam memutuskan dan berbuat sesuatu harus terhenti pada kaca mata saat ini, bukan bagaimana nanti saat yang akan datang dan ke depannya. Setiap bencana yang terjadi, kita bukan menjadi semakin baik untuk menanganinya atau bahkan mampu mencegahnya, namun realitasnya bencana yang terjadi terus saja semakin memburuk, dan sama sekali tidak terlihat perbaikan dalam penanganannya.

Bangsa ini, layaknya sebuah pasar yang mengalami kegagalan (market failure) karena begitu banyak eksternalitas negatif yang terjadi tanpa mampu diinternalisasikan dengan baik. Lalu, bagaimana peran pemerintah? Pemerintah dalam beberapa buku teks ekonomi yang kita baca hadir ketika pasar mengalami kegagalan. Namun, apakah akan selalu efektif? Segala intervensi yang pemerintah lakukan tidak akan pernah efektif jika selama pemerintah itu sendiri mengalami kegagalan dalam mengatur dirinya sendiri. Lalu, apa yang mesti kita semua perbuat?

Mulailah dari diri kita sendiri untuk menjaga dan adil terhadap lingkungan serta menjalankan aktivitas ekonomi ini secara fair. Apabila kita tidak berhasil memperbaiki diri dan berusaha mencurahkan segenap pikiran dan tenaga kita untuk menangani hal ini, biarkan saja teori Thomas Robert Maltus terjadi, bahwasanya masyarakat dalam suatu perekonomian akan mati akibat kelaparan, bencana alam, dan peperangan. Sepertinya, dua hal yang diungkapkan Malthus kini sudah terjadi, dan kita juga pada saat ini tidak perlu memulai atau melakukan peperangan untuk hanya mati di negeri ini. Mengerikan memang, namun itulah yang terjadi pada bangsa ini sekarang. Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk bagi kita semua…..

Itulah Indonesia, Welcome to our country!

Salam dari The Coffee Bean&Tea Leaf PIM 2

24 Februari 2007, 17.17 WIB