Belum Cukupkah Ujian-Mu Tuhan?
Belum cukupkah segala ujian Tuhan terhadap bangsa kita ini. Berbagai bencana yang terjadi sepertinya lengkap sudah. Di darat, berbagai kecelakaan transportasi seperti kereta api yang terus saja seringkali mengalami anjlok dengan korban yang tidak sedikit. Di laut, beberapa kapal dengan penumpang hingga ribuan seringkali mengalami tenggelam di tengah lautan. Adapun korban yang selamat harus mengalami pengalaman traumatis terapung-apung di lautan hingga beberapa hari, dan juga ada yang harus tenggelam tak ditemukan, ataupun harus mengalami kapal yang terbakar di laut dengan tanpa pengetahuan keselamatan transportasi yang baik. Di udara, beberapa kali kecelakaan terjadi dan yang sangat fenomenal hilangnya pesawat Adam Air yang hingga hari ini tidak kunjung ditemukan. Sudah cukupkah ujian-Mu Tuhan?
Ternyata belum. Berbagai bencana alam pun ternyata terus saja menghujam negeri ini. Gempa bumi, yang menimpa berbagai penjuru di tanah air, mulai dari tsunami di Aceh, gempa bumi di Jawa Tengah dan Yogyakarta hingga gempa bumi yang menimpa beberapa kawasan timur di Indonesia. Belum lagi bencana banjir, yang tidak peduli menimpa daerah manapun, termasuk ibukota negara kita, di mana pusat 80 persen kekuatan ekonomi Indonesia berada, dan pula di mana pusat kekuasaan yang mengatur segenap negeri ini digerakkan, bagaimanapun juga harus mengalami kelumpuhan dengan hampir 60 persen wilayahnya digenangi air. Selain itu, negeri inipun harus mengalami kewaspadaan di mana angin puting beling terus saja menghancurkan rumah-rumah kami. Bencana banjir tidak hanya air, namun wilayah Sidoarjo, Jawa Timur penduduknya terus mengalami ketidakjelasan akibatnya tempat tinggalnya terendam lumpur panas, tinggal di penampungan dengan kehidupan yang sungguh tidak layak. Sudah cukupkah ujian-Mu Tuhan?
Ternyata juga belum. Di tengah-tengah beberapa wilayah yang mengalami kebanjiran, ada wilayah lain ternyata harus mengalami kekeringan hingga mengalami gagal panen untuk tahun ini. Belum lagi beberapa penduduk negeri ini harus bertahan hidup hanya dengan memakan nasi aking, dan anak-anak tidak menerima gizi yang harusnya mereka terima dengan baik akibat ekonomi keluarga yang semakin hari semakin sulit. Lalu sudah cukupkah ujian-Mu Tuhan? Ternyata masih juga belum, berbagai penyakit menerjang negeri ini, mulai dari korban meninggal akibat flu burung yang terus berjatuhan, dan juga korban demam berdarah yang dari hari ke hari terus saja bertambah.
Lalu, bagaimana selanjutnya Tuhan? Apakah Engkau mulai meninggalkan negeri ini? Atau, Engkau memang telah lama meninggalkan tempat ini? Atau mungkin semua ujian ini adalah wujud kasih sayang diri-Mu kepada kami yang terlalu tamak dan rakus serta gagal untuk menjadi khalifah di negeri ini yang Kau amanahkan?
Bagaimanapun, di tengah rasa kalut, pedih, dan kegamangan negeri ini yang tak kunjung selesai kami berusaha untuk tidak mengakui dan mentakzimkan sebuah diktum bahwa Tuhan telah mati, seperti yang diungkapan filsuf Nietczhe beberapa abad yang lalu, yang setelah mengucapkan diktum itu ia tak lama hidup di dunia ini. Atau, segala ujian ini, kami makin menyadari akan eksistensi sesuatu yang transenden mengenai diri-Mu, atau eksistensi kita sebagai manusia yang penuh segala kekurangan seperti dalam eksistensialisme dan humanisme kata Jean Paul Sartre.
Negeri inipun selalu saja seperti tidak pernah belajar dari apa yang telah terjadi, layaknya pikiran para penghuni ini yang terlalu miopik, segala sesuatu dipikirkan hanya jangka pendek. Memang seperti itu, atau apa kita semua sedang memakzulkan bahwa kita semua dalam jangka panjang akan mati, seperti yang diungkapkan John Maynard Keynes. Oleh karena itu, pikiran kita dalam memutuskan dan berbuat sesuatu harus terhenti pada kaca mata saat ini, bukan bagaimana nanti saat yang akan datang dan ke depannya. Setiap bencana yang terjadi, kita bukan menjadi semakin baik untuk menanganinya atau bahkan mampu mencegahnya, namun realitasnya bencana yang terjadi terus saja semakin memburuk, dan sama sekali tidak terlihat perbaikan dalam penanganannya.
Bangsa ini, layaknya sebuah pasar yang mengalami kegagalan (market failure) karena begitu banyak eksternalitas negatif yang terjadi tanpa mampu diinternalisasikan dengan baik. Lalu, bagaimana peran pemerintah? Pemerintah dalam beberapa buku teks ekonomi yang kita baca hadir ketika pasar mengalami kegagalan. Namun, apakah akan selalu efektif? Segala intervensi yang pemerintah lakukan tidak akan pernah efektif jika selama pemerintah itu sendiri mengalami kegagalan dalam mengatur dirinya sendiri. Lalu, apa yang mesti kita semua perbuat?
Mulailah dari diri kita sendiri untuk menjaga dan adil terhadap lingkungan serta menjalankan aktivitas ekonomi ini secara fair. Apabila kita tidak berhasil memperbaiki diri dan berusaha mencurahkan segenap pikiran dan tenaga kita untuk menangani hal ini, biarkan saja teori Thomas Robert Maltus terjadi, bahwasanya masyarakat dalam suatu perekonomian akan mati akibat kelaparan, bencana alam, dan peperangan. Sepertinya, dua hal yang diungkapkan Malthus kini sudah terjadi, dan kita juga pada saat ini tidak perlu memulai atau melakukan peperangan untuk hanya mati di negeri ini. Mengerikan memang, namun itulah yang terjadi pada bangsa ini sekarang. Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk bagi kita semua…..
Itulah Indonesia, Welcome to our country!
Salam dari The Coffee Bean&Tea Leaf PIM 2
24 Februari 2007, 17.17 WIB
March 8th, 2007 at 10:20 pm
iya nih far…kemaren kampung gw padang panjang kena gempa…hiks2..Alhamdulillah sodara gw pada selamat.cuman kasian tante gw rumahnya retak harus dirombak ulang…