Pak Tua, Sudahlah!

Memang sulit dalam kehidupan ini di mana perbedaan generasi seringkali menjadi kendala untuk mempersatukan perspektif secara bersama-sama. Apalagi menghadapi generasi tua yang lahir dengan perbedaan dekade yang cukup jauh berbeda. Mungkin adakalanya generasi muda merasa frustasi menghadapi generasi yang selain tua, juga pesakitan politik, dan post-power-syndrom. Kaum tua ini merasa bahwa hanya generasinyalah yang paling unggul dibandingkan generasi sesudahnya. Mereka terus saja berfikir bagaimana bagian generasi yang lain berubah atau mengikuti menurut apa yang dipikirkannya, bukan mereka yang mencoba beradaptasi dan berkompromi dengan lingkungan yang kian hari kian terus mengalami perubahan.
Kaum ini lagaknya sangat megalomaniak, arogan, dan layaknya ratu adil yang bisa menyelesaikan semua masalah di dunia ini. Retorikanya membuai mimpi, namun sayang mereka seringkali tidak berkaca pada diri sendiri.

Pernah berbicara dengan pongahnya mengenai pentingnya peran demokrasi dalam membangun peradaban, namun apa daya pada kesehariannya, sungguh sangat otoriter dalam membina keluarga.
Pernah bicara mengenai peran ilmu pengetahuan dan teknologi, pentingnya peran teknologi informasi dalam era globalisasi, namun jangankan menggunakan internet, menjalankan program standar microsoft word, power point, apalagi excel pun tak bisa, menggunakan teknologi sms pun diketiknya dengan tertatih-tatih melalui jari-jemarinya yang sudah kaku.
Pernah bicara soal moral dan etika, namun sayangnya sikapnya seringkali tidak sesuai apa yang diucapkan, selalu saja mengharap bagaimana orang lain seharusnya bersikap padanya, namun tidak terjadi sebaliknya, yaitu bagaimana seharusnya dia bersikap pada orang lain.

Pak Tua, sudahlah…..Dunia ini terus mengalami perubahan, tak bisa semua dijadikan berwarna homogen dengan kacamata anda yang kian lama kian menghitam dan buram.
Pak Tua, sudahlah…..Cukup hentikanlah semua, dan jangan selalu remehkan kami generasi muda yang mencoba mewarnai hidup ini dengan warna kami sendiri.
Pak Tua, sudahlah…..Kami semua tahu apa yang sebenarnya pada dirimu, kami berterimakasih atas segala nasihat dan tuntunan yang telah kau berikan, namun jangan paksa kami untuk mencoba mengisi jalan kehidupan kami seindah angan dan utopia mimpimu. Biarkanlah kami renungi dan putuskan jalan terbaik untuk kami sendiri dan memperbaiki bangsa ini.
Pak Tua, sudahlah…..Jangan hentikan kami untuk bermimpi menggapai semua angan dan cita-cita kami.

Pak Tua, bukankah semua hal besar diawali dengan sebuah mimpi?

Kami sadar Pak Tua sudah tak ingat lagi mengapa pada akhirnya manusia bisa menginjakkan kaki di bulan.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi pernah diketemukannya sebuah bohlam lampu yang sekarang kami bisa merasakan terangnya dunia di malam hari.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi bagaimana pada akhirnya manusia bisa terbang di udara.
Kami sadar, Pak Tua sudah tak ingat lagi bahwa kami sudah bisa bercakap-cakap dengan manusia di belahan bumi yang lain melalui sebuah telefon.

Apakah semua itu akan terjadi apabila manusia tidak pernah bermimpi?

Pak Tua, apakah salah kami bermimpi ataupun bercita-cita menuntut ilmu setinggi-tingginya dan menggapai sebuah pengalaman hidup kami yang lain untuk tinggal di negeri seberang dan kembali ke negeri kami dilahirkan untuk membangun dan memperbaikinya, dibandingkan beberapa teman seusia kami yang harus menghabiskan hidupnya dalam jeratan narkoba dan kehidupan seks bebas.
Pak Tua, apakah salah kami mencoba berkontribusi untuk bangsa ini yang terkadang lebih kami cintai dibandingkan diri kami sendiri. Walapun negeri ini tidak peduli pada kesejahteraan kami sendiri…Padamu negeri, jiwa raga kami…..
Pak Tua, apakah salah kami terus-menerus mengkritisi para elitis negeri ini yang tidak kunjung sadar dan bertobat untuk tidak terus-menerus menghancurkan negeri ini yang semakin lama semakin rapuh.
Pak Tua, jangan salahkan kami yang harus memilih jalan kami sendiri akibat perbuatan kaum dirimu yang semakin membulatkan tekad pada diri kami agar pada saatnya nanti generasi setelah kami tidak bernasib sama dengan kami atau lebih baik dari kami.
Pak Tua, waktu terus berputar, dunia terus berubah, apa yang terjadi hari ini tidak bisa kau samakan dengan hari kemarin, dan mungkin apa yang dilakukan hari ini, tidak bisa kau terapkan hal yang sama di masa yang akan datang.
Pak Tua, sudahlah, izinkan kami mencoba mewarnai kehidupan kami dengan warna kami sendiri……

Pak Tua, sudahlah!
Pak Tua, sekali lagi, sudahlah!
Pak Tua, kami memohon, sudahlah!
Pak Tua, sekali lagi kami memohon, sudahlah!

Di sudut jalan M.H. Thamrin
Jakarta, 26 Februari 2007
21.20 WIB

Leave a Reply