Irak : Konflik dan Sepak Bola
Monday, July 30th, 2007Gelora Bung Karno, Minggu, 29 Juli 2007, sebuah sejarah tertoreh, namun bukan Indonesia Raya yang bergema di saat itu. Indonesia hanyalah sebagai penyelenggara yang menyaksikan dramatisasi sepakbola Asia di tahun ini.
Hari itu, siapa sangka, negeri yang kini dalam keadaan kehancuran, keadaan politik yang tidak stabil, konflik berkepanjangan, dan keadaan ekonomi yang tidak menentu ternyata mampu menghadirkan suguhan permainan sepak bola yang mumpuni, Irak, juara Piala Asia 2007.
Hari itu, rakyat Irak berdiri tegap bersatu sebagai satu bangsa yang padu serta bergembira menyambut sebuah kemenangan. Sebuah rasa kemenangan yang bukan hasil dari keberhasilan menundukkan kependudukan Amerika Serikat, dan juga rasa kemenangan yang tidak membutuhkan peluru, mortir, granat, darah, dan kepedihan. Namun hanyalah sebuah permainan sepak bola.
Hari itu juga rakyat Irak seperti bersatu sebagai sebuah bangsa yang utuh, tanpa memandang siapa Syiah, siapa Sunni, siapa Kurdi, atau segala macam ras, suku, dan beragam primordialisme lainnya. Rasa bersatu itu tidak memerlukan legitimasi atau pesan-pesan atas nama firman Tuhan dalam kitab suci bahwa sesama mereka adalah bersaudara. Namun sekali lagi, hanyalah melalui sepak bola.
Hari itu siapa sangka juga, pada akhirnya dapat kita katakan bahwa sepak bola bisa lebih efektif menyatukan sesama dalam masyarakat sebuah bangsa di tengah konflik dan peperangan yang terus menyeruak. Memang bisa jadi hanya temporer, dan setelah itu kita bisa mengatakan “the party is over,” namun hal itu cukuplah menyegarkan mereka di antara keresahan kehidupan penuh dentuman bom, desingan peluru, tangisan anak-anak, dan gelimangan darah.
Seperti pada headline koran Jakarta Post July 30, 2007, “Iraq completes Asian Cup dream.” Irak berhasil menyuguhkan penutup pertandingan Piala Asia yang cukup memukau. Rakyat Irak dapat sejenak bergembira menyambut kemenangan ini. Perlu saya katakan, mereka cukuplah membutuhkan petasan atau kembang api untuk diledakkan, dan juga mengarahkan senapan ke udara dari butiran peluru yang ditembakkan, bukan meledakkan bom bunuh diri atau mengarahkan senapannya kepada sesama biar rasa kemenangan ini teruslah berlanjut dan tak lekas sirna, serta tak ada lagi darah dan nyawa yang hilang sia-sia.
Indonesia, teruslah berlatih!!!!