Archive for August, 2007

I’m a twenty something

Tuesday, August 21st, 2007

Twenty something-Jamie Cullum

After years of expensive education,
a car full of books and anticipation,
I’m an expert on Shakespeare and that’s a hell of a lot
but the world don’t need scholars as much as I thought.

Maybe I’ll go travelling for a year,
finding myself or start a career.
I could work for the poor though I’m hungry for fame
we all seem so different but we’re just the same.

Maybe I’ll go to the gym, so I don’t get fat,
aren’t things more easy with a tight six pack?
Who knows the answers? Who do you trust?
I can’t even separate love from lust.

Maybe I’ll move back home and pay off my loans,
working nine to five answering phones.
Don’t make me live for my friday nights,
drinking eight pints and getting in fights.

I don’t want to get up, just let me lie in,
leave me alone
, I’m a twenty something.

Maybe I’ll just fall in love that could solve it all,
philosophers say that that’s enough,
there surely must be more.

Love ain’t the answer nor is work,
the truth eludes me so much it hurts
. 
But I’m still having fun and I guess that’s the key,
I’m a twenty something and I’ll keep being me.

I’m a twenty something.
Let me lie in, Leave me alone.
I’m a twenty something.

A Song That Is A Story About ‘The Dirty Politicians’

Tuesday, August 21st, 2007

The Beatles - Piggies

Have you seen the little piggies
Crawling in the dirt
And for all the little piggies
Life is getting worse
Always having dirt to play around in.

Have you seen the bigger piggies
In their starched white shirts
You will find the bigger piggies
Stirring up the dirt

Always have clean shirts to play around in.

In their styles with all their backing
They don’t care what goes on around

In their eyes there’s something lacking
What they need’s a damn good whacking.

Everywhere there’s lots of piggies
Living piggy lives
You can see them out for dinner
With their piggy wives
Clutching forks and knives to eat their bacon.

Piggies- George Harrison, Beatles 1968. Taken from White Album.

This song was a story about ‘the dirty politicians’

Berikut beberapa hal yang gue bisa utarakan seputar moral cerita dalam lagu di atas:

Apakah kau lihat politisi-politisi muda itu

Larut dalam permainan politik yg kotor

Dan lihatlah politisi-politisi muda itu

Hidupnya semakin tidak tentu arah

Akademis yang jeblok dan kuliahnya yang tak menentu

Demi turut merasakan kotornya arena politik yang baginya menggiurkan

Apakah kau pernah lihat politisi elit negeri ini

Dengan tampang necis dan seolah bijaksana

Kalian akan menemukan mereka itu

Sedang asyik memainkan dan mengatur rencana politiknya

Tentu dengan menggerakkan pion-pionnya yang seperti kerbau dicocok hidungnya

Hidupnya penuh sandiwara

Dengan selalu berusaha menampilkan sosok pribadi yang bersih di dalam arena politik yang kotor itu

Dengan berbagai cara dan dukungan di belakangnya

Sebenarnya mereka tidak begitu peduli dengan apa yang sedang terjadi sekitarnya

Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana mendapatkan kekuasaan

Yang mereka butuhkan adalah berbagai cara untuk mencapai hal itu semuanya

Kita akan banyak menemukan di mana-mana politisi-politisi kotor itu

Hidup di antara relung-relung kehidupan kita

Menghiasi kehidupan di sudut-sudut malam kota

Terkadang dengan ”lonte-lonte” piaraan mereka

Mereka menikmati gaya hidup mereka yang ”tinggi” sementara rakyat yang diwakilinya hidup dalam keadaan lapar dan menderita

Interpretasi lagu ini gue persembahkan untuk:

Buat yang mengaku agen perubahan namun tak sadar dirinya hanyalah miniatur kebusukan yang terjadi di bangsa ini….

[Semoga bukan intepretasi yang salah dari gue buat lagu di atas. Meskipun salah, yasudahlah toh tak ada juga yang peduli.........]

Jakarta Pun Bergoyang!

Thursday, August 9th, 2007

Pemilihan Langsung Gubernur DKI Jakarta baru saja dilalui sehari yang lalu. Sebuah ritual politik pemilihan langsung kepala daerah untuk pertama kalinya dilaksanakan di ibukota negara. Euforia pemilihan ini sepertinya mengundang demam dan perhatian dari tidak hanya penduduk Jakarta itu sendiri, melainkan juga masyarakat lain di Indonesia di luar Jakarta. Mengapa begitu? Tentu saja DKI Jakarta, selain satu sisi sebagai suatu daerah secara otonom, juga sebagai Ibukota Negara di mana pusat pemerintahan berada, dan juga berbagai pusat bisnis dengan perputaran ekonomi hampir 80% dari ekonomi Indonesia. Jadi, wajar saja jika perhelatan ini begitu menarik untuk disimak.

Hasil quick count dari beberapa lembaga riset untuk siapa yang akan menang memang tidak mengejutkan. Lembaga Survei Indonesia mencatat Fauzi-Prijanto (56,12%) dan Adang-Dani (43,88%);  LP3ES mencatat Fauzi-Prijanto (57,6%) dan Adang-Dani (42,4%); Lingkaran Survei Indonesia mencatat Fauzi-Prijanto (58.59%) dan Adang-Dani (41,41%); dan Litbang Kompas, Fauzi-Prijanto (57,76%) dan Adang-Dani (42,24%). Jadi pasangan Fauzi-Prijanto unggul dalam perolehan suara dengan interval 56 - 58%, dan Adang-Dani memperoleh suara dalam interval 41 - 44%. Buat yang menang, memang akan merasa cukup percaya dengan hasil quick count tersebut, sedangkan yang kalah tentu saja akan berdalih menunggu hasil resmi perolehan suara dari KPUD.

Kita memang bisa mempercayai hasil dari quick count tersebut karena dilandasi oleh metodologi statistik yang dapat dipercaya, mulai dari pembobotan sample, pemilihan sample, jumlah sample, tingkat kepercayaan, serta margin error-nya. Mungkin, kalau sebelumnya di beberapa polling yang menggunakan sms (pesan singkat) di berbagai media seringkali menunjukkan Adang-Dani yang unggul. Namun, metodologi tersebut sangatlah tidak ilmiah, dan tidak dapat dipercaya. Tapi setidaknya cukup jadi sekedar iklan GRATIS buat pasangan calon tersebut. Saya tidak tahu, mungkin juga mereka yang berpartisipasi dalam polling itu lupa, kalo Pilkada ini bukan pemilihan layaknya Indonesian Idol atau Akademi Fantasi Indosiar. Kalau memang mereka berfikir begitu, ya sudah “Biarkan Adang Bernyanyi Saja!” Hahahaha……

Ada hal yang menarik dalam Pilkada ini, Adang-Dani yang didukung PKS diprediksikan hanya mendapat sekitar 25% suara, dan Fauzi-Prijanto yang didukung 20 partai politik diprediksikan mendapat 75% suara. Ternyata, hasil yang terjadi Fauzi-Prijanto unggul tipis 56% versus 44%. Berarti, ada sekitar 20% suara yang beralih dari Fauzi-Prijanto ke Adang-Dani. Memang secara marketing, Adang-Dani lebih berhasil menuai simpatik pemilih melalui jargon-jargonnya, terutama untuk kelas menengah masyarakat urban yang tidak cukup diyakinkan dengan yel-yel “Coblos kumisnya..Coblos kumisnya..Sekarang Juga!” Jargon ini memang lebih laku untuk kelas urban kelas menengah-bawah, terutama agar lebih melekat di benak masyarakat.

Semula memang telah banyak kasak-kusuk, apabila Fauzi-Prijanto menang dalam Pilkada ini, akan masuk pada perdebatan pembagian kekuasaan antar partai-partai pendukungnya. Dalam politik, katanya “Tidak ada makan siang gratis!” Hal inilah yang sebenarnya menjadi kredit yang kurang baik dalam persepsi masyarakat. Bisa jadi sejak Pilkada selesai, dan quick count telah keluar, dan Fauzi-Prijanto telah ”haqul yakin” menang dalam Pilkada ini. Kasak-kusuk pembagian kekuasaan tersebut telah berlangsung.

Gempa yang terasa di Jakarta pada tengah malam setelah Pilkada selesai akibat pusat gempa yang terjadi di Indramayu sebesar 7 skala richter mungkin membuat sebagai penduduk Jakarta ketakutan. Tapi jangan salah, seharusnya kita merasa senang, toh rapat kasak-kusuk pembagian kekuasaan itu sapa tahu menjadi bubar, karena para elit partai itu kalang-kabut menyelamatkan diri dari gempa! Hahahahaha…….dan Jakarta Pun Bergoyang!