Jakarta Pun Bergoyang!
Pemilihan Langsung Gubernur DKI Jakarta baru saja dilalui sehari yang lalu. Sebuah ritual politik pemilihan langsung kepala daerah untuk pertama kalinya dilaksanakan di ibukota negara. Euforia pemilihan ini sepertinya mengundang demam dan perhatian dari tidak hanya penduduk Jakarta itu sendiri, melainkan juga masyarakat lain di Indonesia di luar Jakarta. Mengapa begitu? Tentu saja DKI Jakarta, selain satu sisi sebagai suatu daerah secara otonom, juga sebagai Ibukota Negara di mana pusat pemerintahan berada, dan juga berbagai pusat bisnis dengan perputaran ekonomi hampir 80% dari ekonomi Indonesia. Jadi, wajar saja jika perhelatan ini begitu menarik untuk disimak.
Hasil quick count dari beberapa lembaga riset untuk siapa yang akan menang memang tidak mengejutkan. Lembaga Survei Indonesia mencatat Fauzi-Prijanto (56,12%) dan Adang-Dani (43,88%); LP3ES mencatat Fauzi-Prijanto (57,6%) dan Adang-Dani (42,4%); Lingkaran Survei Indonesia mencatat Fauzi-Prijanto (58.59%) dan Adang-Dani (41,41%); dan Litbang Kompas, Fauzi-Prijanto (57,76%) dan Adang-Dani (42,24%). Jadi pasangan Fauzi-Prijanto unggul dalam perolehan suara dengan interval 56 - 58%, dan Adang-Dani memperoleh suara dalam interval 41 - 44%. Buat yang menang, memang akan merasa cukup percaya dengan hasil quick count tersebut, sedangkan yang kalah tentu saja akan berdalih menunggu hasil resmi perolehan suara dari KPUD.
Kita memang bisa mempercayai hasil dari quick count tersebut karena dilandasi oleh metodologi statistik yang dapat dipercaya, mulai dari pembobotan sample, pemilihan sample, jumlah sample, tingkat kepercayaan, serta margin error-nya. Mungkin, kalau sebelumnya di beberapa polling yang menggunakan sms (pesan singkat) di berbagai media seringkali menunjukkan Adang-Dani yang unggul. Namun, metodologi tersebut sangatlah tidak ilmiah, dan tidak dapat dipercaya. Tapi setidaknya cukup jadi sekedar iklan GRATIS buat pasangan calon tersebut. Saya tidak tahu, mungkin juga mereka yang berpartisipasi dalam polling itu lupa, kalo Pilkada ini bukan pemilihan layaknya Indonesian Idol atau Akademi Fantasi Indosiar. Kalau memang mereka berfikir begitu, ya sudah “Biarkan Adang Bernyanyi Saja!” Hahahaha……
Ada hal yang menarik dalam Pilkada ini, Adang-Dani yang didukung PKS diprediksikan hanya mendapat sekitar 25% suara, dan Fauzi-Prijanto yang didukung 20 partai politik diprediksikan mendapat 75% suara. Ternyata, hasil yang terjadi Fauzi-Prijanto unggul tipis 56% versus 44%. Berarti, ada sekitar 20% suara yang beralih dari Fauzi-Prijanto ke Adang-Dani. Memang secara marketing, Adang-Dani lebih berhasil menuai simpatik pemilih melalui jargon-jargonnya, terutama untuk kelas menengah masyarakat urban yang tidak cukup diyakinkan dengan yel-yel “Coblos kumisnya..Coblos kumisnya..Sekarang Juga!” Jargon ini memang lebih laku untuk kelas urban kelas menengah-bawah, terutama agar lebih melekat di benak masyarakat.
Semula memang telah banyak kasak-kusuk, apabila Fauzi-Prijanto menang dalam Pilkada ini, akan masuk pada perdebatan pembagian kekuasaan antar partai-partai pendukungnya. Dalam politik, katanya “Tidak ada makan siang gratis!” Hal inilah yang sebenarnya menjadi kredit yang kurang baik dalam persepsi masyarakat. Bisa jadi sejak Pilkada selesai, dan quick count telah keluar, dan Fauzi-Prijanto telah ”haqul yakin” menang dalam Pilkada ini. Kasak-kusuk pembagian kekuasaan tersebut telah berlangsung.
Gempa yang terasa di Jakarta pada tengah malam setelah Pilkada selesai akibat pusat gempa yang terjadi di Indramayu sebesar 7 skala richter mungkin membuat sebagai penduduk Jakarta ketakutan. Tapi jangan salah, seharusnya kita merasa senang, toh rapat kasak-kusuk pembagian kekuasaan itu sapa tahu menjadi bubar, karena para elit partai itu kalang-kabut menyelamatkan diri dari gempa! Hahahahaha…….dan Jakarta Pun Bergoyang!
August 9th, 2007 at 6:33 am
ya ampun..
kalo katanya Gus Pur di Republik BBM “gitu aja koq repot”.
Jd, menurut gw sih uda jadi rahasia umum kalo Fauzi-Prijanto jadi gubernur bakalan ada pembagian kekuasaan. bukannya dalam politik selalu ad permainan seperti itu ya? *sambil garuk-garuk kepala*
yo weis kita doakan saja semoga menjadi gubernur yang amanah terhadap rakyat. amien.
tentang gempa tadi pagi, gw ga nyadar kalo tadi malem gempa. gw kirain kepala gw lagi muter-muter… hehehe..
August 14th, 2007 at 8:46 pm
kayaknya ini tulisan lo yang paling jelek yang pernah gw baca.
kayak menyalin ulang berita koran ama TV.bosen bgt gw bacanya.
cuma kutipan ini yang lumayan:
Tapi jangan salah, seharusnya kita merasa senang, toh rapat kasak-kusuk pembagian kekuasaan itu sapa tahu menjadi bubar, karena para elit partai itu kalang-kabut menyelamatkan diri dari gempa! Hahahahaha…….dan Jakarta Pun Bergoyang!
tingkatkan lagi ya tulisannya…berikan pemikiran yang berbeda dari yang lain….hohoohoo
August 15th, 2007 at 6:51 pm
Kayak lo kalo nulis keren aja wa? Hahahahahaha….
Thanks buat kritikannya!
August 21st, 2007 at 5:13 am
Gaf,
gw merasa gempa di tersebut ada hubungannya dengan rencana bupati indramayu untuk melakukan tes kesehatan untuk memeriksa perawan atau tidaknya siswi-siswi SMA di sana. Secara Indramayu terkenal sebagai basis kawin kontrak dan eksportir manusia terbesar di Indonesia. (liat suara pembaharuan atau pos kota sekitar minggu lalu).Jadi gempa itu berguna untuk mengusir para suami yang mengontrak agar si istri kontrak bisa bebas dilakukan tes kesehatan.. bener gak gw??? hahaha…
cheers
August 21st, 2007 at 11:01 pm
Mungkin los!
Secara Indramayu bnyk cewe2nya yg jadi jablay di daerah Mangga Besar, Hayam Wuruk, etc….
Katanya sih paket hemat….
MURAH….
Kan lo los yg pernah observe ke daerah situ!
Next time lo mesti observe it deeply!
Hahahahahaha……….