Tuhan dan Ambigu-Ambigu-Nya
Tuhan dan Determinasi Agama
Saya sebenarnya tak tahu sosok Tuhan itu seperti apa, Dia memang terlalu transenden untuk didefinisikan dan juga Dia tidak eksis untuk digambarkan. Saya tak tahu Dia sedang sendirian atau tidak, semestinya dia seperti halnya sebuah postulat yang telah menjadi teori, “Berlaku di mana saja, dan kapan saja” atau “Dia ada di mana saja, dan hadir kapan saja”
Karen Amstrong sendiri dalam buku the History of God, sebenarnya bukan mencoba untuk mendefinisikan seperti apa Tuhan itu sebenarnya, namun mencoba melakukan eksplorasi sejarah pemikiran manusia-manusia mengenai Tuhan itu sendiri. Apa yang dilakukannya memang cukup mengelaborasi konsep tentang Tuhan dan mencoba mengerucutkannya dengan mengadopsi melalui agama-agama Abrahamistik atau agama Samawi (Langitan). Tetapi juga dalam bukunya secara tidak langsung telah terjadi diskriminasi sudut pandang di sini, agama-agama yang berakar dari sebuah perenungan manusia dan pergulatan dalam kehidupan seakan tak hadir di situ. Apa pasal? Latar belakang mengarfimasi agama-agama tersebut dari sebuah analisis mengenai sejarah manusia berfikir mengenai Tuhannya menurutnya adalah karena perdebatan dengan agama-agama tersebut seringkali terhenti mengenai pembahasan asal-usul kehidupan. Lalu sebenarnya apa fungsi agama itu sendiri? Apakah cukup sebagai sebuah pengatur dan tuntunan hidup atau harus hadir sebagai layaknya theory of everything (mampu menjelaskan segalanya).
“Tuhan seharusnya hanya sendirian, tapi entah dewasa ini Dia nampak semakin banyak.”
Dalam pernyataan ini justru yang terjadi adalah bukan hanya merasa dewasa ini semakin banyaknya Tuhan itu sendiri (kuantitas), namun juga fungsi Tuhan itu yang terkadang semakin terasa kerdil (kualitas).
Memang benar wahyu dan firman Tuhan termanifestasikan dalam ritus-ritus agama yang kemudian terkadang berakulturasi dengan budaya dan tata cara sosial masyarakat. Hal ini kemudian hadirlah simbol-simbol yang membedakan mana agama A ataupun agama B (inter-relation) dan kemudian juga mana agama A aliran X dengan agama B aliran Y (intra-relation). Semua kategori tersebut sebenarnya adalah hasil sebuah rekayasa sosial yang tercipta oleh masyarakat itu sendiri. Layaknya sebuah konsensus tak tersirat dalam memetakan sosok-sosok religius dalam masyarakat.
Esensi Tuhan di sini pada akhirnya mulai terdestruktif, seakan-akan simbol-simbol berbicara lebih kencang dibandingkan firman Tuhan. Seakan takdir hadir dan tercipta dari siapa saja yang dikultuskan di antara golongan-golongan yang ada. Otoritarianisme agama muncul dengan dapat menentukan siapa yang berada dalam jalur kebenaran dan siapa yang kuffar baik dalam inter atau intra hubungan dalam agama tersebut.
Selain itu, dalam kehidupan masyarakat baik dalam level yang sangat tradisional maupun sangat modern sekalipun manusia seringkali secara tidak sadar sedang mengkerdilkan fungsi Tuhan itu sendiri, baik pada saat menerima berbagai kesulitan ataupun mencari jalan menuju kebahagiaan. Ruang-ruang untuk mencapai hal-hal duniawi dan manusiawi sudah semakin terasionalkan dan bahkan manusia semakin jumawa dengan telah berkembang pesat ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu melewati batas pemikiran manusia-manusia sebelumnya. Akhirnya manusia terlupa saat-saat di mana rasionalitas mereka mesti terhenti ketika dihadapkan akan fakta-fakta spiritual yang hadir pada diri mereka.
Skema Tuhan dalam menyampaikan nilai-nilainya: keyakinan akan Tuhan à Agama (Ibadah dan kehidupan sosial kemasyarakatan) à nilai-nilai moral (akhlak). Investasi awal dalam diri manusia menyadari akan keberadaan Tuhan adalah keyakinan atau kesadaran akan keberadaa-Nya. Agama serta ritus-ritus pelengkapnya sebenarnya hanyalah sebagai alat (tools) untuk mencapai tujuan akhir dari pesan-pesan yang disampaikan Tuhan kepada manusia. Kehidupan yang damai, moral yang terjaga, toleransi antar sesama, dan segala nilai kebaikan universal yang diinginkan umat manusia. Sayangnya, seringkali semua terhenti pada point yang kedua, di mana simbol-simbol dan ritus-ritus agama seperti yang menjadi esensi dari segalanya dan sehingga tak pernah mencapai tujuan akhir.
Dalam hal ini saya tak perdulikan baik God atau Gods apakah dia singular atau plural. Hal terpenting adalah apapun kuantitas dan kualitas sosok Tuhan tersebut, semua dapat terejawantahkan dalam tujuan hidup manusia untuk menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu. Kalau hal ini tidak terjadi, kita tak perlu lagi memperdebatkan seberapa banyak Tuhan yang mesti kita sembah, satu Tuhan saja pun akan menjadi tidak berarti apabila tak ada substansi yang hakiki terpatri dalam diri manusia itu sendiri.
Agama sebagai Variabel Konstan: Sebuah Keperluan
Realitas yang terjadi saat ini terlihat mengerucutkan keadaan pada dua titik. Pertama, agama dan berbagai ritusnya masuk ke dalam segala relung-relung kehidupan suatu masyarakat, dan terjadi proses institutionalisasi keagamaan-keagamaan dengan menjadikan agama sebagai aspek formal (pro-formalisasi). Pada kondisi ini, agama-agama banyak bercumbu dengan aspek-aspek ekonomi, politik, sosial, dan bahkan kekuasaan. Hal ini sangat rawan akan terjadinya penjustifikasian hal-hal atau kepentingan yang bersifat duniawi atas nama agama. Agama pada akhirnya hanya sebagai pelarian (eskaptisme) dari berbagai hal ketika manusia tidak berhasil mengoptimalkan rationalitas dalam menghadapi konteks kehidupan yang sedang dihadapi. Dengan demikian, agama akan menjadi segala macam prosedural yang mengatur segala aspek kehidupan tanpa menyempatkan rationalitas menyeruak dan menemukan titik optimalnya.
Sedangkan kutub lain, agama tetap diusahakan terpisahkan dari aspek sosial kemasyarakatan dalam pengertian proses sekularisasi atau paham sekularisme. Pada konteks ini, bisa jadi akan membawa keadaan keberagamaan menjadi lebih baik. Dalam artian, segala macam kepentingan yang bersifat duniawi dijalankan dengan identitas sebenarnya, tanpa meminjam identitas atas nama agama atau memanifestasikan nilai-nilai Tuhan.
Mengapa agama perlu sebagai variabel konstan? Dalam ekonomi, kita mempelajari bagaimana kita mencoba menganalisa dan memahami bagaimana variabel satu mempengaruhi variabel lainnya dengan menganggap variabel lain dianggap konstan. Penggunaan analisa dengan cara ini bertujuan agar kita benar-benar mengetahui bagaimana perilaku variabel satu dipengaruhi variabel lainnya. Sehingga kesimpulan mengenai bagaimana perilaku (behavior) dari variabel tersebut kita hasilkan secara benar.
Hal ini juga penting ketika para ilmuwan melakukan penelitian dan mengamati bagaimana berbagai kehidupan ini berjalan dan termaktub dalam sebuah sistem yang mempengaruhi satu sama lainnya. Secara tidak sadar para ilmuwan ini sebenarnya sedang menganggap Tuhan itu sebuah variabel lain yang dianggap konstan. Apabila tidak, tentu saja perkembangan ilmu pengetahuan tidak akan sedahsyat sekarang karena kesimpulannya akan selalu jelas, “Segala sesuatu yang ada di dunia ini semua mengikuti kehendak Tuhan” That’s all. Tidak perlu lagi ada penjelasan rumit dan menjemukkan pikiran.
Sebagai ekonom, tentu saja dalam membuat sebuah model ekonomi yang berusaha menjelaskan bagaimana variabel-variabel independen menjelaskan variabel dependen secara tidak sadar juga kita menganggap Tuhan adalah variabel lain yang dianggap konstan. Padahal segala hal yang terjadi di dunia ini berdasarkan kehendak Tuhan, manusia hanya dalam tataran berusaha semaksimal dan seoptimal mungkin. Atau mungkin kita berpendapat tidak demikian adanya. Sikap ini juga menyiratkan secara tidak sadar kita sedang mengkerdilkan peran dan fungsi Tuhan dalam detik-detik kehidupan kita. Seba salah memang….
Ber-Tuhan: Ber-Agama atau Ber-Budaya,
“Sisi antropologi mengatakan penyebarluasan agama/sistem religi sangat dekat dengan faktor keluarga/adat /kesukuan. Wajar, karena transfer ilmu religi pertama-tama (paling basic) diajarkan pada lingkup ini.”
Berdasarkan pernyataan tersebut, justru menimbulkan pertanyaan mengenai historikal dari agama dan budaya berkaitan dengan Ketuhanan. Pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana suatu hal dikatakan sebagai ritus agama atau sebagai ritus budaya. Ritus agama mempengaruhi ritus budaya atau sebaliknya. Manakah yang lebih dulu hadir, agama atau budaya?
Ritus-ritus budaya hadir melalui pergulatan manusia antar manusia dengan segala macam faktor adat atau kebersamaan kolektif kesukuan yang pada akhirnya terciptalah sebuah fenomena ritual yang disepakati bersama. Ritual ini terlahir dari hasil proses pengartikulasian nilai-nilai yang dipahami bersama ke dalam perilaku sosial yang kemudian bertransformasi secara turun temurun. Jadi, ritualisme budaya bisa jadi lebih dahulu terlahir daripada ritualisme agama. Dengan demikian, untuk sekedar mengenal ritual-ritual saja sebenarnya manusia tidak perlu ber-Tuhan. Apakah pola berfikir kausalitas ini sudah benar?
Mungkin pola berfikir akan kita bawa ke arah sejauh mana peran Tuhan dengan segala firman dan wahyu-Nya pada akhirnya menciptakan berbagai kepercayaan dan ritualisme keberagamaan yang dilakukan oleh manusia. Lalu, apakah rasa Ketuhanan memerlukan ritual-ritual, atau mungkin sebaliknya ritual-ritual memerlukan rasa Ketuhanan? Dan apakah cukup dengan melaksanakan ritual-ritual tersebut kita merasakan nilai-nilai yang Tuhan sampaikan. Atau sebenarnya nilai-nilai Tuhan itu sudah ada dalam diri kita?
Meyakini Tuhan saja tanpa melaksanakan ritual-ritualnya kita akan terjebak dalam ruang agnostik. Hal ini juga sebenarnya akan menghasilkan sebuah pandangan yang menyesatkan, di mana seseorang yang meyakini sekaligus melaksanakan ritual tersebut akan terlihat sebagai pemeluk agama yang sempurna. Sedangkan menurut saya, kesempurnaan itu hadir ketika manusia telah berhasil melaksanakan esensi dari keberagamaan tersebut, tidak hanya ritual.
Lalu apabila kita dihadapkan pada pertanyaan “We need to be religious or to have religion?” Sepenuhnya saya tidak terlalu peduli akan kedua kategori tersebut. Tetap saja esensi keberagamaan jauh lebih penting dibandingkan pemujaan dan terlarut dalam simbol-simbol keagamaan itu sendiri.
Saya berharap secara pribadi bahwa tulisan ini akan menjadi awal dari pemikiran-pemikiran selanjutnya, dan bukan sebagai akhir pemikiran dan diskusi kita menyoal Ketuhanan.
—————– +++++ ——————-
September 27th, 2007 at 1:20 am
hmm.
tapi ngga perlu sampe SAHUR juga yaa.
be fair to yourself.
November 11th, 2007 at 7:40 am
Eh Nyet, lo nulis apaan sih ga jelas bgt seh lo…!?!?! dasar ngentoot loe!?!?! copo lah you…!?!?! SOK Intelek?!?!?!
tiap hari coli aja kerjaan loo ga usah bawel…
banyak bacod
January 16th, 2008 at 6:40 pm
Ketika membedah tubuh manusia tampak nyata ayat Allah disetiap detak nadi dari aorta sampai mesenterial, bagaimana Allah menciptakan ini semua dengan sangat teratur, ritmik, dan indah hanya subhanallah yang keluar dibibir dan astaghfirullah meresap kedalam relung hati. semoga ayik lebih banyak bertemu dengan ayat-ayat Allah agar tidak hanya sampai pada pemikiran.
February 11th, 2008 at 9:02 am
Assalamu `Alaikum
@ MArissa
Comment apaan seh ??? Ngomongnya diatur lah…. Mending kagak usah Commentlah Marr
@ Gaffar
Hmm… Areyou rada pusing bacanya… Satu paragraf isinya ada terlalu banyak ide yg mau ditulis, jadi agak blur dan mengambang. Ya Areyou emang gak jago nulis.
Daripada puyeng mending comment tulisan terakhir adja deh.
“Ritus-ritus budaya hadir melalui pergulatan manusia antar manusia dengan segala macam faktor adat atau kebersamaan kolektif kesukuan yang pada akhirnya terciptalah sebuah fenomena ritual yang disepakati bersama. Ritual ini terlahir dari hasil proses pengartikulasian nilai-nilai yang dipahami bersama ke dalam perilaku sosial yang kemudian bertransformasi secara turun temurun.”–>> Areyou Setuju
“Jadi, ritualisme budaya bisa jadi lebih dahulu terlahir daripada ritualisme agama.”–>> Kurang Setuju, gak perlu dibahas….Kayak Duluan Ayam apa Telor. We don`t Know Visually, at least menurut Al-Qur`an, Allah Menciptakan Hewan dan Ternak di Bumi trus mereka berkembang biak.
“Dengan demikian, untuk sekedar mengenal ritual-ritual saja sebenarnya manusia tidak perlu ber-Tuhan.”–> Tergantung Ritual apa dulu… Kalo` ritual makan, memang manusia punya insting untuk makan atau ritual tidur, PASTI manusia butuh tidur.
Tapi mengutip Lirik lagunya Chrisye “Jika Surga dan Neraka tak Pernah ada…Pasti tidak ada orang yang akan menyembah/ Menyebut Nama-NYA (Tuhan)…”
Apakah pola berfikir kausalitas ini sudah benar?”–> I don`t Know, You may Decide…
Tetap Semangat Bro…
February 11th, 2008 at 9:05 am
Eh salahKok Marissa seh… Maksude SENAT FE kok ngomongnya kayak gitu….!!!
April 3rd, 2008 at 9:20 pm
Areyou:
Saya juga heran kenapa SENAT FEUI, lebih tepatnya 04/05 berkomentar demikian, sungguh memalukan.
Saya kira ini oknum, tapi karena pengecut menggunakan account di bawah organisasi.
Saya rasa, dicukupkan saja memposting hal yang serius di blog friendster ini. Toh segmen market di blog ini tidak siap menerima pemikiran di luar mainstream, mungkin cocoknya di sini mem-posting genre pop atau tetek bengek yg gak jelas.
October 2nd, 2008 at 6:30 pm
I just want to take some money!
Press here
October 8th, 2008 at 7:21 am
Menarik-menarik menarik…
Eh sebelumnya : Taqobbalallahu minna wa minkum..Taqobbal ya kariim.
Saya punya dua catatan nih (CMIIW) dalam menginterpretasikan tulisan antum.
1. “Tuhan seharusnya hanya sendirian, tapi entah dewasa ini Dia nampak semakin banyak.”
Menurut saya, kita (katakanlah Muslim) tidak boleh terjebak dalam ke-muttasil-lan dan ke-minfasil-an Tuhan. Tuhan tidak untuk dievaluasi (sekarang lagi “sedikit” atau “lagi banyak”, sekarang Tuhan lagi “killer” apa lagi sabar).
Personifikasi itu tidak laya dalam menilai Tuhan. Kalau memang SEPERTINYA Tuhan (sedang) banyak, ya memang sifat itulah yang sedang Dia tampilkan untuk menunjukkan ke “Maha” an Nya
Kalau Tuhan sedang memberi hukuman, ya itu adalah cara untuk menunjukkan Dia maha Rahman, jadi
Hubungan MUnfasil (CMIIW)
Tuhan=Baik+Pengasih+Penyayang+…..+Adil
Itu tidak berlaku
karena somehow, ketika ada Tsunami dan “necessary condition ” yang ditetapkan manusia untuk melihat TUhan tejadi violation, kita bisa terjebak dalam menganggap Tuhan bukan lagi Tuhan.
Semuanya harus dilihat secara amat sangat holistik dan tidak partial.
2. Kenapa agama menjadi constanta?
Malah menurut saya harusnya agama bukan menjadi “parameter beta yang dicari”, tapi menjadi exogenous variabel. Betapa bahayanya kalau agama menjadi constant. karena at any kind of situation dia bisa berubah (jangankan dengan bertambahnya “cross section” atau “waktu”, dengan berubah “software” aja dari edisi 3 ke empat, nilainya bisa berubah).
IMHO, biarlah agama itu menjadi exogenous variable yang bijaksana. Hal-hal (problem, permasalahan, dinamika yang kita hadapai) gak lebih dari sebuah variabel dependen, dengan variabel independen agama, sehingga lahir suatu parameter beta (qonaah, istiqomah, sabar dan syukur (ikhlas)) dalam menyikapi semua hal yang ada dalam kehidupan, dua hal yang terakhir itu masuk dalam Dhanilian economics (karena Djanil 96 yang paling seneng ngomong sabar dan ikhlas/syukur, dua sikap kembar yang mudah diucapkan susah mengaplikasikan).
Apa untungnya agama menjadi exogenous variabel?
Untungnya adalah, refleksi kita dalam penyikapan dinamika kehidupan bisa lebih dinamis (nilai beta nya bisa beubah, bukan agamanya yg berubah). ketika kita hidup di dunia yang (katakanlah agama kita mayoritas) tentunya menhasilkan refleksi nilai “beta” yg berubah ketika hampir semua orang di sekitar kita tidak tahu Islam.
Wallahul Muwaffiq ilaa aqwamith thorieq..