Politisasi Cinta
February 26th, 2007 by bung-gaffAda-ada saja kelakuan beberapa kawan, sampai-sampai urusan percintaan saja perlu menggunakan manuver-manuver yang sedikit politis.
Pertama, antara persaingan dua individu untuk mendapatkan seorang wanita. Individu A menggunakan cara mendekati sang wanita dengan berusaha dekat selain dengan diri wanita itu dan juga dengan teman-teman terdekatnya. Tujuannya, jelas saja untuk mendapatkan dukungan dari teman-teman terdekatnya, sehingga rekomendasi, perspektif dan sugesti yang tercipta semuanya me-leading wanita itu pada pria yang dimaksud yaitu individu A. Berbeda dengan individu B, mungkin orang ini sedikit kurang beruntung, di mana kurang mendapatkan tanggapan positif dari teman-teman terdekat sang wanita, meskipun wanita itu merasa oke-oke saja dengan individu B. Namun, individu B melancarkan strategi yang berbeda, yaitu dengan mendekati keluarga termasuk orang tua, adik, kakak, sampai saudara-saudara dari wanita itu. Jadi, rekomendasi, perspektif dan sugesti yang tercipta dari keluarga besar sang wanita ter-leading pada individu B. Posisi individu B mungkin sedikit diuntungkan di mana individu A kurang mendapatkan tanggapan positif dari keluarga sang wanita. Baiklah, jadi dapat kita simpulkan adalah individu A, manuver yang dilakukan fokus pada tataran akar rumput (grass root), sedangkan individu B, fokus pada tataran elitis.
Lalu, mana yang lebih efektif? Tergantung dari akan sampai mana hubungan dengan sang wanita ini akan dibawa ke arah mana. Apabila tujuan yang ingin dicapai oleh kedua individu itu adalah jenjang yang sangat serius seperti pernikahan, individu B mungkin agak sedikit diuntungkan, karena keputusan untuk melakukan pernikahan tidak hanya pertalian dua individu saja, melainkan juga pertalian dua buah keluarga besar yang berbeda. Maka, individu B akan lebih mudah untuk bermanuver ataupun menyampaikan maksud dan tujuan yang akan dicapainya kepada keluarga sang wanita. Bagaimana dengan individu A, posisinya bisa saja tetap baik, terutama ketika menjalin hubungan sebatas “pacaran” karena bagaimanapun juga peran teman terdekat lebih mudah untuk mendukung hal ini, dan selama hubungan ini terjalin, pihak keluarga dapat dijadikan “pihak eksternal” yang tidak perlu tahu-menahu mengenai hal ini. Anak muda jaman sekarang taulah, ada-ada saja cara bagaimana mengelabui orang tua, you know lah!
Kira-kira nih, ekuilibrium atau titik terakhir yang terjadi akan bagaimana? Bisa jadi begini, individu B awalnya harus berbesar hati membiarkan selama beberapa waktu sang wanita berhubungan “pacaran” dengan individu A, yah selama hubungannya itu, mereka bisa saja membicarakan mengenai masa depan, hubungan serius, bagaimana pernikahan mereka berdua nanti, dan seterusnya. Namun pada saatnya nanti, dalam kenyataan posisinya ternyata akan terbalik karena bagaimanapun juga namanya hubungan pacaran kagak jaminan bakal berujung pada pernikahan, betul? Okelah, suatu saat nanti biarkanlah individu A harus gigit jari atau mungkin patah hati membiarkan sang wanita kenyataannya harus menikah dengan individu B. Hmm…Tragis memang, dan mungkin begitulah hidup ini, just play a game guys! And be fair enough Ha3…..
Kasus kedua, mungkin ada hal yang seringkali benar, bahwa suatu rencana yang dibuat dan diumumkan terlalu dini seringkali mengalami kegagalan dibandingkan rencana yang dibuat tanpa perlu diumumkan. Mengapa begitu, mungkin istilahnya announcement effect, di mana sebuah pengumuman mengenai sesuatu oleh satu pihak kepada pihak tertentu ternyata memberikan reaksi kepada pihak-pihak lainnya. Seringkali, reaksi-reaksi dari pihak lainnya ini kadang lebih memberikan situasi yang tidak kondusif untuk mencapai tujuan tersebut, karena bagaimanapun juga hasil pengumuman yang dibuat akan membuat berbagai pihak menyoroti berbagai tindakan yang dilakukan individu yang dimaksud. Dengan demikian, segala gerak-gerik individu itu akan mudah terbaca atau dapat mungkin disalahtafsirkan oleh interpretasi berbagai pihak yang sering ditambahkan “racikan-racikan” yang sedikit provokatif.
Lalu, bagaimana solusinya, misalnya begini, pria A ingin mendekati seorang wanita. Supaya segala tindak-tanduknya tidak terbaca adalah bagaimana opini yang tercipta di tataran publik berbeda nyata dengan apa yang dia lakukan di tingkat realitasnya. Caranya bagaimana? Mungkin sedikit kejam kali ya, yaitu kita membutuhkan pria lain, sebut saja pria B, sebagai martir, maksudnya? Pria ini yang pada akhirnya diciptakan imagenya di tataran opini publik sebagai pihak yang mendekati wanita tersebut. Apabila opini publik yang tercipta berhasil yaitu bahwa pria B sedang berusaha mendekati sang wanita maka dengan demikian pria A akan lebih mudah melancarkan segala manuvernya untuk mendapatkan sang wanita tersebut, tanpa ada kasak-kusuk dari pihak lain mengenai segala tindak-tanduk yang dilakukannya. Lalu, bagaimana kira-kira ekuilibrium atau titik akhir dari manuver ini? Yah, bersiap-siaplah publik akan tercengang-cengang kalo ternyata sang wanita ternyata mengumumkan bahwa dirinya berhubungan dengan pria A, bukan pria B. Hmm…a lil’ bit shocked memang, dan mungkin begitulah hidup ini, just play a game guys!
Kasus ketiga, mungkin kasus ini diilhami dari sebuah kisah pemenang nobel ekonomi yang menghasilkan teori Nash equilibrium. Jadi begini kisahnya, biasanya kita-kita ini baik pria maupun wanita pasti akan menciptakan peer group-peer group tersendiri, bahasanya populernya nge-gank lah. Nah, misalkan di suatu tempat entah itu di kafe, klab, atau tempat-tempat biasanya berkumpul anak-anak muda gitu kali ya, ada sebuah gank pria dan gank wanita bertemu. Namanya juga laki-laki, pasti akan ada hasrat menyukai lawan jenis (sorry analisis ini gagal untuk gank homo), pastinya dalam suatu gank wanita itu pasti ada satu wanita yang bisa dibilang paling cakep, sebut saja rating #1, yang membuat semua pria dalam gank cowo itu berdecak kagum. Nah, kira-kira apa yang akan terjadi? Setidaknya, pasti semua pria dalam gank cowo itu akan memikirkan bagaimana caranya mendapatkan wanita dengan rating #1 tersebut. Hasilnya kira-kira bagaimana, mungkin bisa terjadi persaingan yang sehat, dan lebih mungkin lagi terjadi persaingan yang kurang sehat di antara pria-pria itu, mengapa? Karena namanya juga satu gank, pastilah mau tidak mau pada akhirnya pria satu mengetahui apa yang dilakukan pria lainnya, dan ini bisa menjadi perselisihan internal, dan mungkin perpecahan dalam tubuh gank itu. Atau bisa jadi, kondisi yang tercipta bisa lebih parah, yaitu sudah terjadi perpecahan gank dan tidak ada satupun pula yang mendapatkan wanita rating #1 tersebut.
Nah, kira-kira bagaimana sebaiknya? Harus ada minimal satu pria, sebut saja pria A, yang berfikir sedikit berbeda, di mana ketika semua teman-temannya memikirkan wanita rating #1 (first-best) dia memikirkan wanita yang cantiknya sedikit di bawah rating #1 atau sebut saja rating #2 (second-best). Lalu, kira-kira ekuilibrium atau titik akhirnya bagaimana? Biarkanlah teman-teman pria yang lain bertengkar untuk mendapatkan wanita rating #1, dan pria A dapat melenggangkan langkahnya untuk mendapatkan wanita rating #2 tanpa perselisihan dan berjalan penuh damai. Akhirnya bisa saja begini, teman-teman pria yang lain bertengkar dan saling bermusuhan dan juga pada akhirnya tidak satupun mendapatkan wanita rating #1 tersebut, dan pria A hidup damai dan mendapatkan wanita rating #2. Sometimes the second-best choice is better than the first-best choice……. Hmm…. mungkin begitulah hidup ini, just play a game guys!
Oke deh, mungkin tulisan ini cuma remeh temeh, but setidaknya it’s quite entertain enough…..
Cocoknya diakhiri dengan statement yang biasa mengakhiri film kartun tiny toons, That’s all folks! Ha3…………..