Susahnya Hidup Teratur

October 1st, 2006 by bung-gaff

Rupanya susah bagi gw hidup teratur…setelah sekian lama menjadi pekerja..

Beda banget memang kalo udah kerja dibanding masih kuliah…..kerja udah kayak anak SD tiap hari (senin-jumat) mesti datang pagi 08.00 sampe sore 17.00….Awalnya gw masih suka sok2 bgadang…padahal ga jelas apa yg gw lakuin…krn biasa menjadi kalong di malam hari…He3…ga tau ya kok gw malah gelisah kalo di malam hari gw tdk mlakukan sesuatu, coz my life begins at 22.00…kata orang2 tuh…yang sebel ditanya2 soal kerjaan di tengah2 nyenyaknya tidur…Lumayan juga lagi bertahap mencoba tidur antara jam 10 or 11 malem, walaupun masih tidur ayam gt, kadang melek kadang bangun……ujung2nya baru tdr jam 01.00 gubrak!!!! Dengan gt tntu aja gw brangkat kerja dgn setengah ngantuk…..mana harus brgkt dari dpk maximum jam stgh tujuh,,,pastinya gw sempet2in tidur pas naik kereta, walaupun kereta isinya dah amburadul kayak kereta sayur, tp tetep aja gw bisa sempetin tdr dengan berbagai gaya, mulai dari duduk sampe tdr sambil berdiri………

apa sih far?

Memang ga jelas isi blog lo ini far…

Far…far…far away!

Interupsi Sejarah

September 8th, 2006 by bung-gaff

Sepertinya iringan waktu membawa batin ini tersadar bahwa apa yang telah dilakukan selama ini hanya akan menjadi sebuah interupsi, suatu hal yang hanya sekedar lewat, sepertinya layaknya dalam sebuah rapat besar dengan gemuruh lontaran pendapat yang sudah jelas siapa memihak siapa…"Interupsi" hanya akan dianggap angin lalu tanpa pernah sempat memahami kedalaman esensinya….

Sepertinya sebuah sejarah memang tidak bisa ditorehkan oleh sebuah pena dengan tidak begitu jelas warna tintanya. Tidak terlampau merah, dan juga tidak dapat dibilang hijau. Sejarah sepertinya hanya akan tercatat apabila alunan pena perjalanannya menegaskan bahwa sebuah tinta sejarah memang terlampau merah atau terlalu hijau….

Kita memang seringkali tak pernah belajar dari hidup, di mana kadang perlunya melepaskan belenggu warna untuk melihat terangnya dunia secara objektif…

Kita juga perlu sesekali menyadari, bahwa segala waktu, tenaga, pikiran yang dikorbankan selama ini pada akhirnya tidak pernah dianggap sebagai bagian dari torehan sejarah. Namun biarlah, setidaknya waktu telah menunjukkan sejarah pernah ter-"interupsi", walaupun hanya sekedar lewat….

FEUI, Jazz, dan Rokok

September 8th, 2006 by bung-gaff

Kali itu saya tak menemukan musik jazz di saat yang pas untuk didengarkan sambil menikmati secangkir panasnya kopi dan tercelup pastry di dalamnya. Saat itu alunannya sedikit berbeda, sungguh menggelitik di antara rerumpun pepohonan dan semilir angin malam di FEUI waktu itu. Ya, Mbak Luluk Purwanto kembali hadir seperti tiga tahun sebelumnya di tempat yang sama dengan konsep perpaduan kesenian wayang dan alunan musik jazz. Kali ini membawa konsep berbeda, yaitu berupa perpaduan dengan the helsdingen trio yang sudah cukup lama dan terbilang mumpuni di kancah musik jazz. Tidak hanya sekedar bermain, acara itu punya sebuah visi besar bagaimana menciptakan generasi baru para pemain musik jazz. Jadi, wajar jika acara tersebut diawali oleh para musisi muda yang membalut musik jazz dengan gairah baru. Suatu hal yang tidak pernah ditemukan pada FEUI Allstars…Memang wajah dunia telah merubah image generasi musik jazz. Jazz tidak lagi dimainkan oleh orang tua, berpenampilan sederhana apa adanya yang lebih mengutamakan harmonisasi dan improvisasi dalam bermusik. Namun, tidak halnya dengan saat ini, sebut saja Norah Jones atau Michael Bubble, sebuah semangat jazz baru dengan bungkusan yang lebih apik dan tetap menggeliat di telinga para pecinta musik jazz, terutama kaum muda.

FEUI mungkin terbilang sebagai ikon musik jazz bagi kaum muda atas penyelenggaraan Jazz Goes to Campus tiap tahunnya. Tapi, sepertinya kata "ikon" terlalu jumawa untuk melekat pada nama almamater itu. Dalam kata itu, seharusnya tersirat sebuah gambaran generasi para penerus musik jazz, namun yang ada adalah hanya tergambar generasi para penerus event organizer acara musik jazz. Padahal, waktu terus bergulir, dan apakah mungkin sejarah hanya akan mencatat Chandra Darusman yang dapat disebut sebagai musisi jazz FEUI?

Musik memang tak pernah tua dimakan waktu, namun yang memainkan musik akan tenggelam seiring berjalannya waktu…

Ada satu hal yang juga cukup menarik polemik di malam itu. Selama ini, acara yang diselenggarakan di kampus seperti harus terpisahkan dengan sponsor rokok. Malam itu pikiran pun melayang saat-saat ketika menjadi ketua senat yang menolak sebuah perushaan rokok yang ingin menyelenggarakan acara musik akustik di kolam makara FEUI. "View-nya bagus!" kata seorang bagian humas salah satu stasiun TV. Tapi, taruhlah mungkin ini sebuah idealisme untuk tidak menelan air ludah sendiri yang tidak menghendaki adanya sponsor rokok di kegiatan kemahasiswaan waktu itu, yang pada akhirnya membuat mulut ini mengatakan, "Maaf Pak, sepertinya kita tidak bisa bekerjasama dalam hal ini". Ternyata kata-kata saya itu membuat pertemuan dengan pihak stasiun TV itu tidak untuk terakhir kalinya. Ada sekitar dua pertemuan lanjutan dengan ikut hadir sang produser bagian acara itu. Tapi tetap saja jawaban saya waktu itu, "Maaf Pak, sepertinya kita benar-benar tidak bisa bekerjasama dalam hal ini". Berbeda memang dengan situasi sekarang, saat ini mungkin sudah "sah-sah" saja menyelenggarakan sebuah acara bertajuk MEZZO JAZZ, Djarum Super…Namun, di malam itu pikiran ini sepertinya tak mau ambil pusing, sepertinya hati ini berbicara "Sudahlah ini kan bukan jaman gue lagi", yah memang alunan musik jazz di malam itu terlalu sayang dilewatkan dengan hanya memikirkan hal yang tidak-tidak…

Depok, 7 September 2006

Menjadi Pahlawan Bagi Negeri Lain Tapi Menjadi Pecundang di Negeri Sendiri

September 8th, 2006 by bung-gaff

    Akhir-akhir ini terus terang gue agak sedikit bingung melihat manuver politik luar negeri yang dimainkan Indonesia, khususnya mengenai pengiriman pasukan Indonesia ke Libanon. Mungkin memang ada saatnya Indonesia mulai menunjukkan taring diplomasinya dalam kancah polemik berkepanjangan yang berlangsung di Timur Tengah. Di satu sisi, memang perlu sebuah negara memiliki sikap untuk menunjukkan eksistensinya dalam menyikapi permasalahn di dunia, mungkin dalam hal ini Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.
    Namun, siapa sangka anggaran yang dibutuhkan untuk proses pengiriman pasukan Indonesia ke Libanon ternyata memiliki besaran yang sangat signifikan. Sebut saja untuk operasional dibutuhkan Rp 32 miliar, persiapan keberangkatan Rp 1,269 miliar, latihan pratugas Rp 0,9322 miliar, pemberangkatan Rp 0,445 miliar, penugasan 3 bulan Rp 29,2 miliar, angkutan PBB Rp 35 miliar, dan pembelian tambahan 32 panser VAB Perancis Rp 287 miliar. Jadi, total anggaran untuk pengiriman pasukan adalah sebesar Rp 355,75 miliar, sedangkan kompensasi bantuan dari PBB hanya sebesar Rp 35 miliar untuk Indonesia.
    Pengeluaran tersebut seakan sebuah gerakan heroik yang menyeruak dari pemerintah Indonesia untuk turut serta dalam percaturan global. Namun, seolah-olah kita lupa, masalah di negeri kita sendiri tidak pernah ada henti-hentinya. Sebut saja dana kompensasi bencana gempa yang proses penurunannya mengalami ketidakjelasan, konflik antar suku di Papua yang tak kunjung selesai, semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang seakan terus mengalir tiada hentinya, kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung terungkap, masalah kontroversi impor beras yang selalu menjadi polemik klasik dari tahun ke tahun, belum lagi seputaran data kemiskinan yang ternyata BPS harus mencatatkan terjadi peningkatan penduduk miskin sekitar 3,9 juta jiwa, serta  permasalahan korupsi yang masih terus menghantui perjalanan bangsa ini.
    Sekiranya pemerintah Indonesia mempertimbangkan capacity building yang hadir di mata publiknya sendiri, sebelum menembus kebijakan batas teritorialnya. Mungkin judul tulisan ini menyebutkan bahwa Indonesia mencoba menjadi pahlawan untuk negeri lain namun kadang menjadi pecundang di negerinya sendiri. Mungkin yang perlu dijawab, apakah keputusan pengiriman pasukan tersebut memang sudah mempertimbangkan secara proporsional dengan situasi di dalam negeri?
    Mungkin saatnya juga sang penulis tidak perlu mencibir terlalu jauh mengenai sebuah kebijakan yang terlampau diputuskan. Dengan berdasarkan sebuah pemikiran dan prasangka baik, semoga saja semangat heroik Indonesia untuk menjadi pahlawan di Libanon, turut menghantam pundi-pundi Israel, membawa secercah harapan untuk juga menjadi pahlawan dan heroik di negerinya sendiri. Semoga….Wallahu’alam

Stop War!!!!

August 6th, 2006 by bung-gaff

Akhir-akhir ini penyerangan Israel ke Libanon mau tidak mau turut menyita perhatian gw dengan terus mengikuti up-date beritanya di TV atau di Koran. Hmm….sampe gw punya soundtrack sendiri di saat-saat ini yang terus berbunyi nyaring di komputer gw….

PERDAMAIAN (GIGI)

Song : Drs. H. Abu Ali Haidar - Lyrics : Drs. H. Abu Ali Haidar

Perdamaian, Perdamaian 4x

Perdamaian, Perdamaian 4x

Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai 2x

Bingung Bingung Ku Memikirnya 4x

Perdamaian, Perdamaian 4x

Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai 2x

Wahai Kau Anak Manusia Ingin Aman Dan Sentosa

Wahai Kau Anak Manusia Ingin Aman Dan Sentosa

Tapi Kau Buat Senjata Biaya Berjuta Juta

Tapi Kau Buat Senjata Biaya Berjuta Juta

Banyak Gedung Kau Dirikan Kemudian Kau Hancurkan

Banyak Gedung Kau Dirikan Kemudian Kau Hancurkan

Bingung Bingung Ku Memikirnya 4x

Perdamaian, Perdamaian 2x

Banyak Yang Cinta Damai Tapi Perang Semakin Ramai

Bingung Bingung Ku Memikirnya 4x

Tuhan, Agama, dan Universality of Moralism

August 6th, 2006 by bung-gaff

Penyerangan Israel ke Libanon sedang ramai tersaji dalam berbagai media massa akhir-akhir ini. Sepertinya, peperangan akan kembali menjadi wajah dunia yang tak akan pernah berakhir….Dunia…Dunia…

Ingat pada sebuah buku Clash of Civilization karya Samuel P. Hutington, atau buku lama dengan judul Future Shock karya Alvin Toffler….semua memiliki prediksi di dunia ini pada suatu saat akan terjadi sebuah benturan, baik atas nama budaya, pergerakan atas nama agama, liberalisme, kapitalisme, sosialisme, atau atas nama "Tuhan".

Berbicara masalah Tuhan, paling asik baca buku Sejarah Tuhan karya Karen Amstrong, sebuah buku secara eksploratif menyajikan sejarah pemikiran dan pergulatan manusia mengenai Tuhan.

Lalu apa konsekuensi logis ketika ber-Tuhan, ber-Agama, atau ber-Budaya, terserah itu sifatnya "Samawi" atau "Paganisme". Tentu, semuanya mengundangkan spirit yang sama mengenai universality of moralism. Perdamaian, saling menghormati, tidak saling menyakiti, dan berbagai hal di mana kita secara manusia menginginkan hal-hal yang bersifat kebaikan. Trus, apa konsekuensi logis itu terjadi? Sungguh maaf kalo gw kadang harus bisa bilang "tidak".

There are too many things, kalo boleh gw katakan berbagai kekerasan mengatasnamakan "Agama" atau "Tuhan".

Rangkaian terorisme dan pergerakan radikal mengatasnamakan "Agama" dan menyampaikan pesan "Tuhan" dengan darah, jiwa, korban, dan bahkan air mata. Padahal "Tuhan" sendiri akan tetap memiliki kebesaran tanpa perlu manusia melalukan hal demikian.

Beberapa hal yang kadang membuat gw sulit tertidur di malam hari. Apakah segala permasalahan di dunia ini, krisis ekonomi, pergulatan politik, kesenjangan sosial, kemanusiaan, semuanya hanya sebuah permasalahan marjinal, dan intinya permasalahan yang terjadi di antar negara dunia ini adalah permasalahan "Agama"? Atau mungkin sebaliknya, permasalahan "Agama" dijustifikasi dengan sederetan permasalahan dunia? 

Masih terkait dengan konsekuensi logis yang udah gw utarakan sebelumnya, ber-Tuhan –> ber-Agama –> Universality of Moralism. Dari fase ini, mengapa fase terakhir "universality of moralism" seringkali tidak tercapai? Secara logis, bila ini tidak tercapai, Apakah kita dalam ber-Tuhan, dan ber-Agama tidak dilakukan dengan benar? Masalah ini akan gawat bila terjadi pada orang yang sangat rasionalistik, yaitu bila fase tersebut seringkali terpatahkan, maka orang yang sangat rasionalistik yang sangat mendambakan university of moralism tersebut akan menyimpulkan bahwa kekacauan, kekerasan, ataupun peperangan yang terjadi di dunia ini konsekuensi logis dari manusia tidak melaksanakan dua fase sebelumnya. "Ber-Tuhan dan Ber-Agama." Atau mungkin apakah dua fase tersbut belum efektif, belum optimal, atau sama sekali tidak efektif dan optimal?

Silahkan saja diresapi!

Akhirnya SE juga….Beberapa Skenario Untuk Ujian Kompre

August 3rd, 2006 by bung-gaff

Sidang skripsi plus ujian komprehensif, sebuah ritual yang harus ditempuh seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjananya. Rabu, 2 Agustus 2006 pukul 12.00 WIB ritual itu akhirnya harus gw jalanin, lumayan nervous coz gw tau penguji gw dosen-dosen dengan latar belakang high quantitative and econometrics’ freak. Sebut saja, Anton Hendranata (anak IE cukup gemeteran juga kalo dapet dosen Ekonometrika-nya Pak Anton), Mahyus Ekananda (dosen gw waktu Ekonometrika 2 (Advanced)), kecuali Pak Robert Simanjuntak alias "Bang Robby" (Kadept IE sekaligus PS gw)….Melihat komposisi seperti di atas sebenarnya gw sudah merancang beberapa skenario untuk menghindari kondisi gw dibantai abis mengenai ekonometrikanya:

Skenario 1: Gw bikin slide presentasi skripsi yang panjang, gw bikin hampir 56 slide, dengan ini gw bisa mengulur waktu cukup lama yang pada akhirnya sesi tanya jawab tinggal sedikit.

Skenario 2: Kalo presentasi gw dipotong, bagaimana me-leading pertanyaan pertama keluar dari Pak Robert, karena setau gw dia kurang dalam mengenai hal-hal yang berbau quantitative approach. Kalo dia tanya, gw akan jawab secara perlahan-lahan dan menjelaskan as long as possible sambil pura2 bego. Skenario ini fungsinya sama dengan skenario 1, supaya giliran 2 dosen berikutnya tersisa sedikit waktu.

Skenario 3: Karena kebetulan jam 12.00, kan pas makan siang tuh, langkah awal melakukan basa-basi sambil buat pertanyaan2 "ice breaking" buat kondisi se-enjoy mungkin sambil menanyakan "ga makan siang pak?" "kan capek dari tadi nyidang orang?" pertanyaan dimasukkan unsur ekonomi dan pengalaman2 selama menyidang mahasiswa lain, basa-basi ini gw estimasi bisa mengulur waktu hingga 30 menit.

Skenario 4: Mengkombinasikan skenario 3 dan skenario 1, kemudian ditutup dengan skenario 2.

Skenario 5: Jika skenario 1 gagal, jalankan skenario 2.

Skenario 6: Jika skenario 3 gagal, jalankan skenario 1.

Skenario 7: Jika terjadi seknario 1 dan 3 gagal, efektifkan skenario 2.

Skenario 8: All scenarios "Failed," Improvisasi dan prepared all answers well.

Ternyata yang terjadi Skenario 8, "Damn !!!!"

Kronologis:

1. Skenario 3 gagal, coz mereka sudah disiapin makan siang, dan ternyata gw harus tetap memulai presentasi dan mereka mendengarkan sambil makan siang.

2. Skenario 1 gagal, coz di-slide yang ke-20 gw sudang dipotong dengan hujaman pertanyaan-pertanyaan, dan akhirnya presentasi tidak diteruskan. Situasi yang terjadi adalah sesi pertanyaan sidang skripsi dengan menanyakan hal-hal yang berbau full econometrics…….

3. Skenario 2 gagal, situasi yang terjadi Pak Robert lebih banyak diam, malah dia cenderung kebingungan ngeliat skripsi gw….malah Pak Anton yang sangat aktif bertanya….Damn!!!!

Skenario yang dijalankan: Tanpa skenario, full improvisasi, dan gw larut dalam debat panjang dan sangat melelahkan yang hampir full dihujam pertanyaan yang berbau econometrics selama 2 1/2 jam. Oh God!!!

Jadi kebayang ya sidang gw isinya apaan….pertanyaan nyerempet2nya seputar metode stokastik, nonstokastik, kenapa harus ada error, kenapa data di-discounted, kenapa stasioner, pada tingkat level, first diff maksudnya apa, gimana bentuk kerjanya, cointegrasi data untuk apa, pake tingkat level atau differences, kenapa harus stasioner kalo kita pake data trend gimana, knapa ada multicolinearity, bagaimana dengan specification error, kenapa harus cari elastisitas, trus kenapa pake model ini model itu, gimana sih bentuk test unit root, sebenarnya alur skripsi kamu gimana apa ada tumpah tindih estimasi, bagaimana critical value yang dipake, pake uji statistik apa, kenapa….bla..bla..bla…Pokoknya bener2 mabok ekonometrik gw…

Setelah 2 1/2 jam sidang skripsi trus masuk sesi ujian kompre, terus terang gw udah kelelahan rasanya kepala gw berasap dan mau meledak…Untungnya semua pengujinya juga udah kecapekan bantai gw di awal2 sidang…akhirmya sidang kompre cuma 15 menit dengan kalimat pembuka dari salah satu sang penguji "Dari tadi kita ngomongin hal-hal yang sangat melangit, yaudah pertanyaannya yang membumi aja" Jadi selama 15 menit gw cuma menjelaskan tentang kurva Indifference Curve and Balance Budget trus menjelaskan efek substitusi dan efek pendapatan dah gitu udah selesai deh…..

Setelah gitu gw disuruh keluar untuk menunggu para penguji mendiskusikan nilai buat gw….gw keluar dengan pasrah, terserah deh mau lulus apa ga, gw dah abis2an, sambil bete, melamun, merenung, kesel, marah, sambil memandang kosong ruang2 di Dept IE…..

Hasilnya untung lumayan, dapet A-, seneng banget karena ujian yang sangat melelahkan coz sial aja dapet penguji yang econometrics’ freak abis….Gw bener2 kelalahan banget….ga kebayang kalo ngulang ujian kompre sama para penguji yang sama….Hih..jadi begidik gw….Thanks God!

Hidup Kadang Tidak Adil….

July 10th, 2006 by bung-gaff

Entah hidup di FEUI ini terlalu rumit atau kita sendiri yang merumitkan diri. Mungkin lo..lo..pada yang udah tingkat 4 paling tau gimana "sakit"nya ngerjain skripsi or tugas akhir lo. Skripsi lo dengan segudang metodologi, pendekatan, ide-ide, download2 jurnal, nge-run data-data bla..bla..and de bla….Tentu aja untuk mencapai hal itu, kadang lo ga bisa menjalani hidup lo secara "normal", bisa jalan ke mall, nonton film-film teranyar di bioskop, or larut nuansa kehidupan malam di jakarta di akhir minggu. Yah, paling seru emang denger orang2 curhat tentang perjuangannya masing2 untuk menyelesaikan skripsi. Suatu hari, ada hal yang bikin gw ngerasa "Jeger", bermula kisah salah satu mahasiswa di univ swasta (ga usah disebut lah ya, ga etis) cerita tentang skripsinya, dan kebetulan juga anak ekonomi, dia cerita itu mgkn karena ketemu kita2 yang berpasang tampang rumus dengan dahi berkerut2 memikirkan metode apa yang bakal di pake lagi, alhasil sang dosen secara implisit membuat kita mengharuskan ber"otodidak" dalam membuat skripsi. Berikut perbincangannya (merupakan hasil cerita teman gw berinisial "L" anak FEUI):

anak swasta (AS) : Lo bikin skripsi apa sih?

L (anak FEUI) : gw lagi coba nge-run data produksi biaya BBM untuk tahu peran Pertamina pake Computable General Equilibrium alias CGE nih?

AS : buset, apaan tuh?

L : CGE itu loh? (bingung juga jelasinnya)

AS : Lo ngitung pake software apaan?

L : pake Gempack, biasanya temen2 gw pake E-Views or SPSS.

AS : E-Views dan SPSS itu apaan?

L : ????? (katanya anak ekonomi kok gak tau), emangnya lo tulis tentang apa?

AS : Tentang faktor2 yang mempengaruhi performance perusahaan asuransi

L : Variabelnya apa aja?

AS : Cuma satu sih, mengukur pengaruh jumlah SPG (sales promotion girl) dengan tingkat kinerja perusahaan asuransi.

L : Hah, cuma satu variabel? Trus ngitungnya pake apaan?

AS : Pake rumus, diitung manual aja…

L : Hah….itung manual?

Setelah itu, sambil melamun di depan laptop dan segunung paper dari jurnal dan hasil print-an run data sang "L" merenung:

"Hidup di FEUI ini terlalu rumit, atau kita sendiri yang merumitkan diri?"

Pesan dari Gw: Iya, "L" hidup ini kadang tidak adil? Hahahaha….

Untuk anak FEUI 2002 buat yang lagi skripsi, Ingat deadline tanggal 14 Juli 2006, pastikan semua persyaratan di Birpen sudah diselesaikan, foto 4×6 lima biji, dan yang pasti draft akhir skripsi lo harus dah ditandatanganin sama PS lo…good luck for all!

Negara antara Scope and Strength

July 10th, 2006 by bung-gaff

Diskusi awal mengenai peran negara bermula pada waktu diskusi mengenai bukunya Francis Fukuyama  "Nation State" di Freedom Institute. Di situ memperdebatkan seberapa besar wilayah publik di mana pemerintah "berhak" untuk turut campur bahkan mengaturnya. Ini masuk dalam kategori "Scope". Sedangkan untuk "Strength", seberapa besar kekuatan pemerintah untuk menegakkan berbagai rule yang sudah dibuat. Gw sendiri cenderung "bosan" dengan perdebatan2 terutama ketika pemerintah dan DPR mulai mendiskusikan beberapa Rancangan Undang-Undang mengenai hal apapun. Beberapa minggu ini, acara Today’s Dialouge di Metro TV ga ada abis2nya membahas isu mengenai UU atau Perda mulai dari berbau syariat Islam sampai APP. Masing2 pihak punya argumen, gw kira mereka merasa punya kebenaran dari sudut pandangnya masing2. So, ga bakal ketemu gitu dua pihak yang selalu beradu argumen tersebut. Gw nulis ini coz gw ditugaskan dept IE FEUI buat ikut memberi masukan buat RUU No.34 tentang Ibukota negara, "membosankan". Benar apa yang dikatakan Francis Fukuyama, negara tidak akan efektif jika terlalu melebarkan "Scope"nya tanpa mampu meningkatkan "Strength"nya. Ada hubungan kausalitas di sini, semakin besar Scope maka semakin memperkecil Strength-ya, sebaliknya, semakin kecil Scope maka semakin besar Strength-nya. kalo buka situs www.dpr.go.id di situ ada sekitar 57 RUU yang lagi dibahas. Ngapain coba? Menurut gw semua RUU atau UU yang sudah dibuat akan cenderung jadi "basi" selama pemerintah tidak memperkuat Strength-nya, penegakan hukum or law enforcement-nya. Coz kesimpulan gw untuk kasus Indonesia terjadi kasus dengan thesis terlalu besar Scope tapi kurang Strength. So, pembahasan, perdebatan yang sampe membuat mulut para "wakil rakyat" berbusa hanya mengalir gitu aja dan menjadi mubazir selama Strength pemerintah tidak berhasil diperkuat. Hal ini dibuktikan dengan indikator "Government Effectiveness" Indonesia yang masih dikatakan rendah. Jadi, kalo denger di TV tentang ribut2 RUU APP, RUU bla, RUU bla, and RUU de bla…cukup ditanggapin dengan senyum kecut aja atau banting aja itu TV-nya. So, coz semua cuma bakal jadi "remeh-temeh" kehidupan di negeri ini, selama segala sesuatu bisa dibayar dengan "uang", buat apa? Tanya kenapa?

Sebuah Renungan dari Bali

July 8th, 2006 by bung-gaff

Kisah suatu malam di Bali, di tengah malam dengan tidak jelas mau ngapain akhirnya cuma duduk-duduk bertiga di selasar pantai Kuta. Dari sekian lama berdiskusi di situ, baru sadar kalo Bali sekarang sepi, atau bisa dibilang kedatangan wisatawan asing meurun drastis setelah peristiwa Bom Bali II. Hasil pembicaraan dengan orang Bali di sana, secara statistik sebelum peristiwa Bom Bali wisatawan asing per tahunnya bisa mencapai 5 juta orang per tahun, sekarang hanya sekitar 1 juta orang per tahunnya. Sebuah angka penurunan yang drastis memang. Coba aja check deh di tabel data CEIC dari Bank Indonesia, bisa dilihat data-data kayak kategori : (Visitors Arrivals: Annual:

Bali) secara grafik setelah tahun 2003 menunjukkan adanya trend yang semakin menurun. Jangankan wisatawan asing mau menuju ke Bali, untuk transit di Bali aja kayaknya mereka makin enggan, itu bisa dilihat di kategori data (Aircraft Passenger: Transit International: Bali) itu juga menunjukkan trend menurun. Jadi wajar, saat itu gw nonton awal-awal pertandingan Piala Dunia di sana dengan hanya ditemani 2-3 bule aja. Sisanya suasana di malam itu udah kayak kota mati….Well…well…

Setelah itu ga tau kenapa gw selalu ngederin lagu GIGI yang baru, judulnya INDONESIA, kayaknya pas banget menggambarkan Indonesia sekarang. Ampir tiap hari gw selalu dengerin ini lagu, sehari bisa 3 kali, i don’t know why? Nasionalisme gw mungkin lagi berkobar-kobar….Halah…

Indonesia

Song : Armand, Budjana, Hendy, Thomas - Lyrics : Armand Maulana

MENYUSURI PASIR PUTIHMU

KU MERASAKAN KEINDAHANMU

HU..HU..HU..HU…..

DEBURAN OMBAK MENYAPAKU

SEPERTI NYANYIAN MALAM SUNYI

MEMBELAI…

BERTABUR BINTANG

DAN SENYUMAN SANG BULAN PURNAMA

BAYANG RIMBUN KEHIJAUANMU

MENYATAKAN KESUBURANMU

HU..HU..HU..HU…..

DAN SELALU MEMENUHI

PANGGILAN SANG IBU PERTIWI

MENGGETARKAN…

TAPI SEMUA ITU

CERITA YANG USANG

Chorus :

PERJALANANKU INI HANYALAH ILUSI

KATA – KATA KU INI SEBUAH KHAYALAN

JAMRUD KHATULISTIWA TINGGALLAH NAMAMU

KEBESARANMU ITU TELAH DIHANCURKAN

DULU NAMAMU DIHORMATI

DIAGUNGKAN DI MUKA BUMI

HU..HU..HU..HU…..

KEHARUMANMU MENYEBARKAN

KECANTIKAN SANG MAHA KUASA

MEMBANGGAKAN…

TAPI SEMUA ITU

CERITA YANG USANG

Chorus